TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Kondisi Rumah Susun Guna Sewa (Rusunawa) Serua, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sangat memprihatinkan. Tak hanya rusak, ironisnya bahkan tak ada satupun yang menyewa di rusun merupakan korban dari bencana situ gintung. “Saya tinggal di sini sejak 2012. Pada awal pendaftaran memang tidak ada korban Situ Gintung yang mendaftar,” ungkap pengelola rusunawa, Rokaya.

Gedung Rusunawa yang dibangun untuk para korban bencana Situ Gintung ini sudah banyak mengalami kerusakan. “Paling parah kerusakan atap fiber di Rusun ini. Karena atap fiber sudah hancur, jika hujan air masuk dan kerap menggenangi areal gedung,” imbuhnya.

Saat ini, Rusunawa empat lantai yang dibangun di atas lahan seluas 1.500 meter persegi pada 2010 dengan biaya sebesar Rp9,7 miliar tersebut dihuni oleh 44 keluarga, pengelola dan dua sekuriti yang bertugas. Adapun biaya sewa per bulan pun bervariatif dari Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. “Di Rusun ini ada 72 rumah. Namun tak semuanya terisi. Harga sewa paling mahal di bagian bawah yakni Rp250 ribu per bulan. Di lantai atas (lantai 4) Rp200 ribu,” ujarnya.

Rokaya mengaku mengelola uang sewa yang dibayarkan penghuni di Rusunawa Serua. Uang sewa tersebut disetorkan ke Dinas Tata Kota Bangunan dan Permukiman Kota Tangsel. Dari uang sewa tersebut pula, dirinya membayar gaji pengelola dan dua sekuriti yang bertugas. “Kadang uang sewa itu digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang ada di Rusun ini. Sisanya baru kami setorkan ke dinas,” pungkasnya. (nov)