JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Untuk memperkuat posisi tawarnya, Palestina meminta agar pemerintah Indonesia dan PDI Perjuangan selaku partai pengusung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dapat memindahkan Kedutaan Besar RI ke Yerusalem.

“Ada harapan dari Kedutaan Palestina d Indonesia agar ada representasi Kedubes Indonesia di Yerussalam. Aspirasi tersebut akan kami sampaikan kepada Presiden Jokowi,” kata Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam keterangan bersama dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Saleh Muhammad Al-Shun usai pertemuan silaturahmi di Kantor DPP PDIP Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Rabu (18/4).

Saat ini kantor perwakilan pemerintah Indonesia untuk Palestina masih berstatus konsulat jenderal kehormatan (konhor) dan berkedudukan di Aman, Yordania.

Nantinya, Palestina berharap ada peningkatan status kantor perwakilan Indonesia dari konhor menjadi kedubes dan kedudukannya dipindah berada di Ibukota Palestina yaitu di Yerusalem Timur.

Hasto mengatakan mendukung keinginan dari pemerintah Palestina tersebut. Karena sejak Presiden pertama RI Sukarno, Indonesia terus berupaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Termasuk Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri yang juga konsisten membela perjuangan rakyat Palestina.

Hasto mengatakan PDI Perjuangan juga menginisiasi kerjasama antarpalemen (joint committee) untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kerjasama antara DPR RI dan parlemen Palestina ini nantinya akan menggalang kekuatan dari parlemen negara lain yang menolak penjahahan Israel atas negara tersebut.

Kerjasama antarparlemen ini merupakan saluran baru untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang selama ini hanya hanya mengandalkan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Selain kerjasama antarparlemen, PDI Perjuangan juga mengusulkan kerjasama antarpolitisi dua bangsa, yakni dalam bentuk pelatihan bersama. “Penyelesaian Palestina secara menyeluruh tanpa Yerusalem (ibukota Palestina) tidak ada artinya,” imbuhnya.

Perjuangan partai untuk terus membantu memerdekakan Palestina dilandasi prinsip bahwa kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Prinsip ini pernah ditegaskan Bung Karno dan pemimpin dunia lain dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.

“Sebagaimana diketahui pada 1962 Bung Karno juga mengingatkan bahwa sepanjang kemerdekaan Palestina belum diperoleh, maka selama itu pula Indonesia berjuang menentang pendudukan Israel,” ujar Hasto.

Zuhair Saleh Muhammad Al-Shun, berterima kasih atas kepedulian PDI Perjuangan dan seluruh rakyat Indonesia yang terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina. Bahkan, kepedulian itu dirasakan semakin tinggi.

“Saya melihat dan bisa merasakan PDI Perjuangan semakin peduli mengenai masalah Palestina. Dan rakyat Indonesia peduli kemerdekaan dan penjajahan di Palestina,” kata Zuhair.

Menurutnya, bangsa Pelestina tidak asing dengan Indonesia karena merupakan “saudara dalam perjuangan.” Ia juga menyambut baik inisiasi yang dilakukan PDI Perjuangan untuk membentuk kerjasama antarparlemen (joint committee), sebagai saluran baru perjuangan kemerdekaan Palestina.

“Kami terima sikap PDI Perjuangan dengan senang hati, dan juga bagaimana sikap Indonesia terkait langkah-langkah yang diambil Presiden AS Donald Trump soal ibukota Israel,” ujarnya.
Secara khusus, Zuhair juga, berterima kasih atas pernyataan Hasto bahwa “Tidak ada Palestina tanpa ibukota Yerusalem dan tidak akan ada perdamaian tanpa Palestina.”

Selain Hasto, pertemuan juga dihadiri Ketua DPP Bidang Luar Negeri Andreas Pareira, Ketua DPP Bidang Bappilu Bambang DH, Ketua DPP Bidang Keagamaan yang juga Ketum PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Prof. Hamka Haq dan Sekum Bamusi, Nasyirul Falah Amru. (har)