JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka adalah salah satu contoh sangat baik dari kerjasama tiga pihak yang saling menguntungkan, yaitu Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Swasta (BUMN). Hal seperti ini akan terus didorong untuk pengembangan infrastruktur di berbagai bidang di berbagai tempat di Indonesia. Demikian diungkapkan Presiden Joko Widodo saat melakukan peninjauan pembangunan tahap akhir Bandara BIJB Kertajati, Majalengka, Jumat (20/4).

Turut hadir dalam kunjungan Presiden tersebut adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Bupati Majalengka Sutrisno, Dirut Airnav Novie Riyanto, Dirut PT. AP 2 Muhammad Awaluddin, Dirut Garuda Indonesia Pahala N Mansury serta jajaran Direksi dan Komisaris PT. BIJB.

Kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan Presiden Jokowi dalam rangka meninjau perkembangan Bandara Kertajati. Pada awal tahun pemerintahannya, Presiden telah menginstruksikan untuk melakukan percepatan penyelesaian Bandara Kertajati yang saat itu hanya berupa pondasi di atas tanah dasar landasan pacu. Dan saat ini Presiden kembali meninjau progres pembangunan bandara yang sudah hampir rampung dan siap dioperasionalkan.

Jokowi mengatakan, Bandara Kertajati ini adalah contoh sangat bagus kerjasama antara Pemerintah Pusat dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Pemprov Jawa Barat dan swasta (PT Angkasa Pura 2). Skema kerjasama ini ternyata bisa mempercepat selesainya pembangunan serta meringankan beban biaya dari masing-masing pihak. “Dan kerjasama seperti ini akan menjadi contoh untuk mempercepat pembangunan infrastruktur nasional di tempat lain,” ujar Presiden.

Semangatnya adalah kerja bersama gotong royong demi mencapai kemajuan secara harmonis (in Harmonia Progressio) seperti kata slogan yang terkenal di dunia kampus terkenal di Jawa Barat. Yaitu untuk bisa menjadi sebuah kekuatan maka lidi-lidi perlu disatukan. Satu lidi tidak akan bisa menjadi sapu, namun jika lidi-lidi itu disatukan akan menjadi kekuatan untuk membersihkan halaman luas.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso di sela-sela acara kunjungan itu menyatakan siap melanjutkan dan melaksanakan model-model kerjasama tersebut untuk membangun dan mengembangkan infrastruktur perhubungan udara di berbagai tempat di tanah air. “Ada beberapa proyek pengembangan infrastruktur perhubungan udara yang akan dikembangkan dengan skema di atas. Salah satu contoh di antaranya adalah pembangunan terminal Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. Ditjen Perhubungan Udara dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sudah menyiapkan lahan dan membangunnya. Nanti akan diberikan hak pengelolaan operasional dan pengembangannya akan diberikan kepada PT Angkasa Pura 2,” ujarnya.

Menurut Agus, keberadaan Bandara BIJB di Kertajati, Majalengka ini mempunyai banyak nilai manfaat. Di antaranya untuk membuka moda transportasi baru (penerbangan) untuk masyarakat sekitar; membuka gerbang ekonomi dan menumbuhkan sektor pariwisata; serta sebagai bandar udara embarkasi haji bagi masyarakat Jawa Barat sehingga membagi beban Bandar Udara Soekarno Hatta.

Untuk mengantisipasi melonjaknya penumpang, luas terminal Bandara yang saat ini sanggup melayani 5,6 juta orang per tahun akan dikembangkan pada tahap berikutnya menjadi berkapasitas 20 juta penumpang pertahun.

Sementara itu untuk melengkapi konektifitas antar moda, Bandara Kertajati akan dilengkapi dengan jalur kereta bandara untuk menarik minat dan mempersingkat waktu penumpang dari Jakarta maupun Bandung. Nantinya kereta ini akan membawa penumpang dari Stasiun Gambir menuju Bandara Kertajati dalam waktu kurang dari dua jam. Kereta akan melalui Bekasi Timur, Cikarang, Karawang dan Cikampek. Dengan keberadaan Bandara Kertajati dan kereta bandara ini, efektivitas transportasi masyarakat akan terpenuhi. (son)