JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Pengamat ekonomi dari Indef, Bima Yudistira mengatakan, management PT Telkom Indonesia dinilai gagal mengantisipasi dan beradaptasi dalam berbagai perubahan yang terjadi di sektor telekomunikasi terutama transformasi digital.

Pasalnya infrastruktur untuk mendukung peralihan dari jaringan lewat suara ke sektor data masih kurang. Padahal kecepatan speed dan akses internet di era digital saat ini sangat dibutuhkan. “Telkom Indonesia dinilai gagal mengantisipasi dan beradaptasi dalam berbagai perubahan yang terjadi di sektor telekomunikasi terutama pada era digital saat ini,” kata pengamat ekonomi dari Indef Bima Yudistira saat diskusi dengan Forum Wartawan Ekonomi (Formi) di Jakarta, Selasa (24/4) sore.

Diskusi yang mengambil tema Menyoal Kinerja PT Telkom menghadirkan sejumlah nara sumber antara lain Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman, Pemerhati BUMN Ismed Hasan Putro, dan Indonesian Resources Studies Marwan Batubara.

Dalam survai digital yang dilakukan, kata Yudistira, rating Indonesia dalam transformasi digital nomor 62 dari 63 negara yang di survai. Sedangkan kecepatan internet, Indonesia menduduki rating ke 52 dari 63 negara. Ini artinya akses internet di Indonesia masih sangat rendah. Padahal internet ini sangat dibutuhkan untuk menunjang kinerja e- commers, fintech dan industri lainnya. “Indonesia sebagai negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak, namun kecepatan internetnya masih rendah bangat. Bagaimana mau mendukung e- commers, fintech, working industry 4.0,” tegasnya.

Menurut Yudistira, tahun 2014 lalu merupakan booming. Namun penggunaan data pada tahun 2017 lalu meningkat hingga 120 persen, dengan rata rata penggunaan data mencapai 2,16 MB.

Dijelaskannya, saat ini pengguna data di Indonesia mencapai 132 juta user sehingga diperkirakan bisnis Telkom di sektor ini seharusnya terintegrasi dengan peningkatan pendapatan.

Namun bila terjadi pendapatan yang terus menurun, itu artinya ada miss manajemen dalam penjualan data telkom kepada masyarakat. “Diperkirakan pada tahun 2018 ini pendapatan Telkom akan menurun dari 13,5 persen pada tahun 2017 menjadi 10,25 persen,” kata Yudistira.

Selain itu saham emiten Telkom terus menanjak, namun ternyata saham emiten Telkom mengalami penurunan hingga 3730 hingga saat ini di bursa saham. Sejak awal tahun atau periode year to date (ytd), emiten, kom sudah mencatat penurunan harga saham 11 persen. Di periode yang sama, asing mencatatkan aksi jual bersih atas saham Telkom sebesar 1,57 triliun rupiah.

Penurunan ini jauh lebih besar dibandingkan penurunan harga saham rata-rata saham emiten BUMN yang meredup di sepanjang tahun ini. Sejak awal tahun hingga hari ini atau year-to-date (ytd), harga saham emiten BUMN dan anak usahanya mencatatkan penurunan rata-rata sebesar 6 persen. “Harga saham Telkom tertekan di BEI jatuh ke posisi kelima dalam kapitalisasi pasar. Harga sahamnya turun hingga 11 persen. Sebagai BUMN yang punya sumber daya besar, harga saham Telkom yang dibawah 4000 dan turun hingga 11 persen itu sangat buruk,” tegasnya. (son)