SOLUSI UI Dukung Puan Jadi Cawapres Jokowi

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Sebagai salah satu parpol besar yang juga pemenang Pemilu serta  berpengalaman dalam strategi perpolitikan nasional, sudah sepantasnya PDI Perjuangan mengusung kader terbaiknya menjadi calon presiden (Capres) atau wakil presiden (Wapres) dalam Pilpres mendatang. Salah seorang kader terbaik PDI-P saat ini dan yang pantas menjadi Capres ataupun Cawapres adalah Puan Maharani. Selain putri Sulung Megawati, Puan juga penerus trah Soekarno, presiden pertama yang disegani dan dihormati masyarakat dunia.

Ketua Umum perhimpunan masyarakat profesional muslim alumni Universitas Indonesia (UI) yang tergabung dalam Solidaritas Muslim Alumni UI (SOLUSI UI) Sabrun Jamil dalam diskusi politik “menuju Konvensi Capres SOLUSI UI 2019” di Jakarta, Jumat (27/4) mengatakan, dukungan ini dilakukan sebagai upaya regenerasi partai bahwa dalam sistem politik, kaderisasi amat penting untuk dapat mendudukan orang-orang Parpol di posisi penting di negara ini. “Posisi penting harus diduduki  kader-kader yang berkualitas dan berintegritas, sehingga dapat membuat Parpol terus  eksis didukung kadernya dalam menjalankan amanat rakyat,” kata Sabrun Jamil.

Alumni TS UI ini menyampaikan, pihaknya mendukung pencalonan Puan Maharani sebagai Capres atau Cawapres,selain sesama alumni, juga kapasitas Puan sebagai politisi yang berpengalaman. Selain belasan tahun jadi anggota DPR, pernah menjadi Ketua Fraksi PDIP juga menjadi Menteri Kordinator yang membawahi sembilan kementrian. Sehingga memahami permasalahan bangsa dan negara saat ini dan yang akan datang.

Menurut Sabrun, saat ini Parpol pengusung Jokowi semuanya berharap ketua umum Parpol mereka diangkat menjadi Cawapres. Fenomena inu akan lebih baik jika posisi Wapres diberikan kepada Puan Maharani, Parpol terbesar yang telah berjasa mengusung Jokowi hingga menduduki kursi Presiden pada Pilpres 2014-2019.

Mahasiswa Cerdas

DItempat yang sama, Sekjen SOLUSI UI Eman Sulaeman Nasim menuturkan, dari kemampuan intelektualitas, Puan Maharani tidak diragukan. Hal ini terbukti ketika Puan menjadi salah seorang mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya. “Tahun 1996 Puan mengambil mata kuliah yang saya bimbing di FISIP UI. Mata kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi. Beliau mendapatkan nilai bagus karena kualitas beliau tidak diragukan. Beliau cerdas hanya pendiam. Mungkin karena saat itu era orde baru. Karena itu saya yakin dalam kepemimpinan nasional kualitas Puan tidak diragukan. Hanya perlu pelatihan di bidang komunikasi publik. Agar pidato dan sambutan-sambutannya lebih memukau publik,” paparnya.

Namun demikian, Eman yakin, seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan public speaking Puan akan semakin matang. Bukan tidak mustahil kelak dapat mengikuti jejak sang kakek menjadi orator ulung, singa podium yang dikagumi masyarakar dunia asalkan terus mendampatkan bimbingan dari pakar komunikasi. “Semuanya berproses. Tapi proses yang sudah dilalui Puan Maharani luar biasa. Beliau sangat pantas mendampingi Jokowi. Atau tampil menjadi orang nomor satu di Indonesia berdampingan dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. Sehingga peta perpolitikan nasional semakin meriah dan dinamis,” jelasnya.

Baik Sabrun maupun Eman  meyakini, inilah saat yang tepat PDI Perjuangan memunculkan kadernya untuk tampil di pentas memimpin bangsa dan negara Indonesia. Jika Pilpres 2019 tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendorong kader terbaiknya sendiri, PDI Perjuangan akan memerlukaan waktu sekitar 10 tahun lagi. “Tujuan berpolitik adalah meraih kekuasaan. selanjutnya kekuasaan itu harus dimanfaatkan untuk  membangun bangsa, mensejahterakan rakyat, menegakan hukum dan keadilan,” paparnya. (son)