JAKARTA (Bisnis Jakarta) – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (30/4). RUPST GMF memutuskan tujuh agenda rapat yaitu Persetujuan Laporan Tahunan 2017, Penggunaan Laba Bersih 2017, Penetapan Tantiem 2017 dan Remunerasi 2018 bagi direksi dan dewan komisaris, Penunjukan Kantor Akuntan Publik tahun buku 2018, Pelimpahan Kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk melaksanakan peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perseroan dalam rangka pelaksanaan Program Management and Employee Stock Option Plan (MESOP), Laporan penggunaan dana Initial Public Offering (IPO) dan Pengukuhan Pemberlakuan Peraturan Menteri BUMN No. PER-03/MBU/08/2017 tentang Pedoman Kerja Sama Badan Usaha Milik Negara.

Dihadiri 90,43% pemegang saham, GMF melaporkan laporan tahunan perseroan tahun buku 2017. GMF membukukan pendapatan operasional senilai USD 439,3 Juta selama tahun 2017, atau mengalami kenaikan sebesar 13% dibandingkan pendapatan 2016 sebesar USD 388,7 Juta. Sedangkan Laba bersih GMF tahun 2017 adalah sebesar USD 50,9 Juta. Tahun sebelumnya, laba bersih GMF menurut laporan keuangan yang telah diaudit adalah sebesar USD 57,7 Juta.

Angka tersebut adalah perolehan keuntungan GMF dengan Extra Ordinary Transaction yaitu Employee Benefit Obligation (EBO), sedangkan tanpa EBO, GMF memperoleh keuntungan sebesar USD 44,2 Juta. Maka dari itu laba bersih GMF tahun 2017 meningkat 15,3% YoY. GMFI juga meningkatkan total aset yang signifikan di tahun 2017 sebesar 22% menjadi USD 539,2 Juta pada tahun 2017.

Pada RUPST ini GMF juga membagikan dividen sebesar US$ 10.189.270 (sepuluh juta seratus delapan puluh sembilan juta dua ratus tujuh puluh US Dolar) atau 20% dari laba bersih perusahaan. Direktur Utama GMFI, Iwan Joeniarto mengatakan pembagian dividen ini mempertimbangkan kebutuhan perseroan untuk investasi dalam mengembangkan bisnisnya. “Saat ini GMF sedang berkembang dengan pesat. GMF membutuhkan modal yang cukup besar untuk mendanai pengembangan bisnisnya,” tutur Iwan.

RUPST GMFI juga memutuskan untuk memberikan kuasa kepada dewan komisaris dalam menetapkan besaran tantiem dan juga penetapan honorarium bagi direksi dan dewan komisaris. Dalam RUPST ini juga GMFI menunjuk Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing Eny & Rekan (Deloitte) untuk melakukan audit atas Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku 2018. Pemegang saham yang hadir juga menyetujui Pelimpahan Kewenangan kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk melaksanakan Peningkatan Modal Ditempatkan dan Disetor Perseroan dalam rangka pelaksanaan Program Management and Employee Stock Option Plan (MESOP).

Pada mata acara ke-6, GMFI melaporkan penggunaan dana IPO yang didapatkan pada Oktober 2017 silam. Dalam pelaksanaan IPO, GMFI meraih dana sebesar 1,1 Trilyun Rupiah dengan komposisi penggunaan 60% untuk investasi, 25% untuk modal kerja dan 15% untuk refinancing. Iwan Joeniarto menjelaskan bahwa saat ini penggunaan dana IPO sudah 40% dan 60% sisanya untuk investasi. “Kami sudah memenuhi 25% pendanaan IPO untuk modal kerja dan 15% untuk refinancing perusahaan. 60% dana IPO akan kami fokuskan untuk investasi pengembangan bisnis GMFI. “Penggunaan dana IPO untuk investasi akan kami mulai ditahun 2018, “ kata Iwan.

Sebagai salah satu anak usaha BUMN, GMF juga menetapkan penyelerasan pedoman kerja sama dengan mitra mengacu pada Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PER-04/MBU/09/2017 tanggal 13 September 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-03/MBU/08/2017 Tentang Pedoman Kerja Sama BUMN (PERMEN Kerjasama BUMN) Pasal 11 Bagi anak perusahaan BUMN dan perusahaan terafiliasi BUMN.

Kejar Target

Di tahun 2018, GMF menargetkan pertumbuhan investasi yang sangat signifikan yaitu hampir 400% dari realisasi investasi di tahun 2017. Target investasi diatas USD 100 Juta akan digunakan untuk sejumlah program organic maupun inorganic  yang utamanya berfokus pada ekspansi bisnis dengan menambah international footprint GMF, serta beberapa strategic initiatives dalam rangka peningkatan kapasitas dan kapabilitas perusahaan.

Investasi yang signifikan ini diharapkan tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan GMF di tahun-tahun mendatang, namun juga akan meningkatkan pasar perawatan pesawat yang bisa digarap oleh GMF. Dari sisi pendapatan tahun 2018, GMF menargetkan mampu tumbuh diatas 15% dibandingkan capaian pendapatan tahun 2017. Dengan target tersebut, perusahaan optimis pertumbuhan laba bersih di 2018 meningkat lebih dari 10% sehingga bisa kembali mencapai angka double-digit. Untuk mengejar target tersebut, Iwan Joeniarto mengatakan pihaknya akan juga meningkatkan aspek operasional perusahaan. “GMFI akan menargetkan pencapaian Turn Around Time (TAT) 100% pada tahun 2018 dan peningkatan utilisasi slot hangar sebesar 94,7%. Bagi kami Operational Excellence menjadi kunci pencapaian kinerja perusahaan yang maksimal,” tutup Iwan. (son)