JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Upaya melestarikan ideologi Pancasila di kalangan generasi mudah tidak semudah membalik telapak tangan.

Banyak hambatan yang ada itu, membuat MPR selaku lembaga yang diamanati oleh konstitusi mensosialisasikan hasil amandemen UUD 1945 termasuk pemahaman ideologi Pancasila, menggunakan berbagai metode.

Salah satunya menggelar festival pendidikan Pancasila yang penyelenggaraannya bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati tiap tanggal 2 Mei.

Wakil Koordinator Kaukus Pancasila di MPR RI, Eva Kusuma Sundari mengatakan karena yang disasar adalah generasi muda maka pintu masuk yang tepat untuk memberi pemahaman itu adalah sekolah-sekolah terutama siswa siswi SD, SMP dan SMA.

“MPR berharap adanya pelembagaan pendidikan Pancasila ke dalam SD dan SMP dan SMA. Jadi fokus kita lebih spesifik,” kata Eva Sundari di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/4).

Pendidikan ideologi Pancasila yang dikemas dalam bentuk festival, diyakininya bisa menjadi penyemangat dan penguat semangat dari siswa dan siswi untuk lebih memahami dan mencintai Pancasila.

Menurut Eva, dari kajian yang dilakukan pihaknya, ternyata ada sekolah yang berinisiatif bereksperimen untuk melembagakan pendidikan Pancasila.

Beberapa sekolah telah eksperimen di masing-masing sekolahnya. Artinya, kerja MPR mensosialisasikan ideologi Pancasila mendapat respon positif.

Dari sekolah-sekolah yang telah membuat pelembagaan ajaran Pancasila itu, Eva mengungkap ada 12 sekolah yang akhirnya terpilih diundang ke gedung MPR RI untuk langsung berinteraksi dengan pimpinan dan anggota MPR terkait berbagai hal menyangkut Pancasila.

Deputi III bidang Pengendalian dan Evaluasi, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Sony Suharso mengatakan sejak didirikan oleh Presiden Joko Widodo, lembaganya membagi tiga kelompok dalam pembinaan Pancasila.

Kelompok pertama adalah kelompok pengambil kebijakan yang terdiri dari pemikir, pejabat negara pengambil keputusan dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan.

Kelompok kedua adalah kelompok yang masuk dalam level perumusan strategi ideologi Pancasila. Mereka antara lain para peneliti di lembaga penelitian maupun akedemisi di perguruan tinggi.

Dan kelompok ketiga adalah kelompok komunitas yaitu kelompok-kelompok di masyarakat yang menerima dan melaksanakan langsung implementasi dari nilai-nilai ajaran Pancasila.

“Kelompok ketiga ini yang sangat penting, karena kalau hanya dijalankan kelompok satu dan dua saja, maka Pancasila hanya sebatas wacana di seminar saja,” kata Sony.

Oleh karena itu, Sony mengatakan sekolah merupakan komunitas pendidikan yang tepat untuk dilibatkan dalam festival pendidikan Pancasila ini. “Karena pertimbangan tersebut, gelar aksi di lapangan yang tepat adalah kelompok ketiga yang salah satunya adalah sekolah,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo selaku panitia penyelenggara mengatakan ke depan, festival ini menjadi pemacu sekolah-sekolah lain untuk lebuh membumikan nilai-nilai Pancasila melalui pelembagaan di sekolah.

“12 sekolah yang kami undang ke Gedung MPR kali ini, hanya yang pertama. Kami berharap festival ini akan menjadikan sekolah-sekolah lain untuk lebih perhatian dengan Pancasila,” katanya.

Kedua belas sekolah, itu antara lain, SDN I Cisarua, Tegal Waru Jawa Barat, SMAN Siwalima, Ambon Maluku, SMPN 4 Pandak, Bantul Yogyakarta, SMP Pawiyatan Daha Satu, Kediri Jawa Timur, Yayasan Qariyah Toyyibah, Salatiga Jawa Tengah, dan Sekolah Sanggar Alam Anak, Bantul Yogyakarta. (har)