MAHASISWA BERPRESTASI – Para mahasiswa IPB ini berhasil menyabet penghargaan bergengsi sebagai Tim terbaik pada ajang Internasional Global Ideapreneur Week 2018, yang digelar Malaysia Global Innovation and Creativity Center.

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Bagas Adjie Prabowo, Yahya Ayyasy, dan  Latiful Akbar berhasil memperkenalkan ide sociopreneurship gula aren pada ajang Internasional Global Ideapreneur Week 2018, di Malaysia belum lama ini.

Dalam ajang yang diselenggarakan Malaysia Global Innovation and Creativity Center tersebut, ketiga mahasiswa IPB itu berhasil menyabet penghargaan sebagai tim terbaik yang diseleksi dari 60 tim start up yang terpilih untuk presentasi.

“Konsepnya, kami mengetahui bahwa gula aren dan gula kelapa itu memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Namun hanya beberapa produk saja yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya. Salah satunya bubur atau makanan tradisional lainnya,” ujar Bagas, ditemui di kampus IPB Senin, (07/05).

Kecilnya skala permintaan gula aren dan gula kelapa dalam lingkup pasar juga diiringi dengan adanya transaksi yang merugikan petani di lapangan. Petani menjual hasil produksi ke tengkulak. Sedangkan harga produk gula aren dan kelapa ini mencapai seratus persen dari harga jual petani.

“Maka dari itu kami mencoba untuk menawarkan sebuah sistem yang nantinya dapat lebih menguntungkan petani di masa depan. Sebab dengan sistem profit sharing itu petani tidak perlu menjual hasil produksinya ke tengkulak. Namun mereka akan menjalin kerjasama dengan sistem kewirausahaan yang kita tawarkan,” ujarnya.

Sistem ini juga akan memfasilitasi usaha petani agar ada better packaging, branding, marketing dan lain-lain. Harapannya keuntungan yang didapatkan petani akan lebih besar karena produk menjadi lebih menarik dan inovatif.

“Sistem wirausaha ini sangat potensial untuk dikembangkan di daerah sekitar Bogor. Ide kami ini juga sudah beberapa kali kami ajukan sebagai usulan usaha, namun sayangnya  masih belum lolos dan berhasil untuk didanai,” sesalnya.

Karena itu, Bagas bersama timnya saat ini terus melakukan penyempurnaan dan pendalaman masalah sehingga ketika berhasil lolos, usaha ini akan secara kongkrit dapat direalisasikan. “Gula aren dan gula kelapa ini potensinya tinggi. Kadar glisemiknya rendah tapi tetap manis. Tidak seperti gula jagung misalnya yang memiliki kadar glisemik rendah, tapi rasanya kurang manis. Nutrisi  dalam gula ini juga baik. Harapannya akan ada produk-produk turunan yang menggunakan gula ini secara masif tidak hanya terbatas pada makanan tradisional saja,” jelas Bagas.

Bagas berharap, gula aren dan kelapa juga dapat masuk dalam industri pembuatan makanan dan minuman skala besar seperti industri kopi kemasan serta sebagainya. “Harapan kami tentu produk ini dapat menjadi produk lokal yang menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia, karena permintaan terhadap produk ini terbilang cukup tinggi di negara lain,” tegasnya. (bas)