JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menghadirkan Presiden RI ke-3 Prof BJ Habibie dan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri dalam sebuah Dialog Nasional di Auditorium BPPT, Jakarta, Rabu (9/5). Dialog yang bertajuk Meningkatkan Inovasi Iptek untuk Mendorong Industri Dalam Negeri, Mewujudkan Ekonomi Pancasila ini ditujukan untuk memperkuat komitmen pemangku kepentingan dalam meningkatkan inovasi dan teknologi nasional, guna mendorong industry dalam negeri.

Kepala BPPT Dr Unggul Priyanto menilai, kesejahteraan dan kemandirian bangsa ini akan semakin hebat, dengan dikuasainya inovasi dan teknologi. “Untuk menjadi Negara industry, yang dibutuhkan adalah inovasi yang dapat dicapai melalui tiga cara, yakni riset, desain engineering dan reverse engineering. Jika kita ingin menjadi Negara industry dengan mengandalkan riset dasar akan membutuhkan waktu lama. Untuk percepatan dibutuhkan reverse engineering, atau ngoprek,” ujar Unggul Priyatno.

Melalui dialog ini diharapkan tercipta solusi yang fokus dan komprehensif tentang peningkatan kontribusi dan peran lembaga litbang kaji terap, dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya yang berjudul Menemukan Kembali Pondasi Indonesia Sebagai Negara Industri menyatakan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah institusi penting dan sepantasnya mendapatkan penguatan dalam melakukan pengkajian serta penerapan teknologi untuk meningkatkan daya saing menuju kemandirian bangsa.

“Pertemuan hari ini merupakan momen berharga, di tengah bergulirnya kehendak kuat dari Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri. Tidak ada satu negara pun dapat menjadi negara industri yang kuat, maju dan mandiri berdikari tanpa riset yang kuat,” ujar Megawati.

Ia mengungkapkan, tahun ini  anggaran riset yang tersebar di seluruh Kementerian dan Lembaga sebesar Rp24,9 triliun dari total 2.221 Triliun APBN 2018. Jika diasumsikan persentase anggaran yang murni untuk riset, tetap pada angka 43,7%, maka setara dengan 10,89 Triliun atau hanya 0,49% dari total APBN 2018. “Itu artinya masih turun 0,05% dari APBN dua tahun lalu,” nilainya.

Kalimat kunci untuk menjadi negara industri, yaitu Science Based Policy, kebijakan pembangunan yang berbasis pada riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Bung Karno sangat mencita-citakan Indonesia menjadi negara industri.  Arsip sejarah memperlihatkan, ia melibatkan tidak kurang dari 600 pakar yang tergabung dalam Dewan Perancang Nasional.

“Bung Karno menekankan bahwa pondasi Rencana Pembangunan Nasional harus bersifat ilmiah, yang merupakan hasil riset nasional, yang berdasar pada kenyataan yang ada dan kebutuhan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, Megawati mengajak memperjuangkan Revisi atas Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, harus eksplisit dikatakan, riset ilmu pengetahuan dan teknologi, wajib menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pembangunan oleh Pemerintah Pusat, maupun Pemerintah Daerah dengan tidak berorientasi pada persoalan eksistensi lembaga, tetapi pada kepentingan bangsa ke depan, mohon dibantu untuk dikaji terkait pentingnya Indonesia memiliki satu Badan Riset Nasional.

Suatu badan yang akan mengkonsolidasikan seluruh riset di perguruan tinggi,  Kementerian dan Lembaga negara, serta di lembaga swasta agar ada satu irama, satu visi dan misi dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan dan perlindungan bagi SDM riset itu sendiri, dari peningkatan kualitas, status kerja, hingga penghargaan atas kekayaan intelektual yang mereka lahirkan,” tambahnya.

Megawati menegaskan, Indonesia tak kekurangan anak bangsa yang cerdas.  Mereka adalah salah satu generasi premium yang dipersiapkan untuk membangun Indonesia menjadi negara industri. mereka semua memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Saat negara memanggil, mereka siap singsingkan lengan, bergotong royong untuk negeri. “Sekali lagi, saya mengajak untuk berjuang bersama mewujudkan Indonesia menjadi negara industri, yang berbasis pada riset nasional,” ajaknya.

Sekaranglah saat yang tepat untuk kembali menghidupkan spirit percaya pada kekuatan anak bangsa kita sendiri. (grd)