PANGANDARAN (Bisnis Jakarta) – Kementerian Koperasi dan UKM memfasilitasi kemitraan Koperasi Produksi Mitra Kelapa (KPMK) Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dengan anak perusahaan Astra Group, PT Rekadaya Multi Adiprima untuk mengoptimalkan pengolahan berbagai produk berbasis kelapa.

Ditargetkan produk berbasis kelapa tersebut akan menjadi produk unggulan dan brand terbaru bagi Kabupaten Pangandaran dalam beberapa bulan ke depan. Tidak hanya diolah menjadi tepung kelapa dan sabun mandi, namun serat dan serabut kelapa diolah menjadi produk furniture, triplek dan kasur.

Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Abdul Kadir Damanik mengatakan, kelapa tidak hanya dimanfaatkan buahnya untuk kebutuhan konsumsi saja, namun dikembangkan menjadi produk lain yang ramah lingkungan berbahan baku yang berasal dari serat dan serabut kelapa. “Potensi yang dimiliki Kabupaten Pangandaran sangat besar. Kita ingin memberdayakan ekonomi rakyat dan melibatkan orang banyak. Saat ini Koperasi (KPMK) Pangandaran sudah memanfaatkan serat dan sabuk kelapa, dan kita dorong agar bisa diolah menjadi produk jadi tidak hanya menghasilkan dan menyuplai bahan baku atau material mentah saja,” kata Damanik.

Didampingi Ketua KPMK Pangandaran Yohan Wijaya, Chief Executive of Business Development and Coorporate Rekadaya Multi Adiprima, Farri Aditya mengatakan, pihaknya sebelumnya sudah mempertemukan pelaku usaha antara KPMK Pangandaran dengan Rekadaya Multi Adiprima di Bogor pada tanggal 12 Mei 2018 lalu. “Sekarang langsung ditindaklanjut dengan mengunjungi pusat pengolahan kelapa ini. Kita ingin koperasi tidak hanya menyuplai bahan baku. Tapi ini bisa menjadi bahan baku bagi produk lain semacam industri kreatif. Nanti dari sisi teknologi akan dipersiapkan Rekadaya dan lainnya,” ujar Damanik.

Dia mengatakan, serat dan serabut kelapa bisa diolah menjadi bahan baku pengganti triplek, produk furniture maupun kasur. “Nanti bisa menjadi brand Pangandaran seperti triplek dan kasur Pangandaran yang berbahan baku serat dan serabut kelapa. Sekarang orang mengenal kasur Palembang, tapi nanti kasur Pangandaran yang lebih empuk dan nyaman,” kata Damanik.

Selama ini, kata dia, material serabut kelapa telah diekspor ke berbagai negara seperti China dan negara lainnya. Untuk itu, program kemitraan yang dijalin saat ini bertujuan untuk mendorong agar koperasi bisa lebih memperoleh manfaat dan nilai tambah dari olahan atau produk kreatif. “Baru-baru ini diekspor 2 kontainer ke China. Kita dorong ada industri hilir bisa berkembang. Banyak yang bisa diproses dengan teknologi yang tepat guna,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua KPMK Pangandaran Yohan Wijaya menjelaskan, koperasi telah mengolah buah kelapa menjadi tepung kelapa dengan kapasitas mencapai minimal 5 ton per bulan dan harganya Rp25. 000 per kilogram (kg). Kemudian diolah menjadi Coco chip dengan kapasitas produksi 6 ton per bulan dengan harga jual sekitar Rp20. 000 per kg. “Untuk tepung kelapa inj kita sudah ekspor ke Kanada dengan perusahaan lain dan menyuplai perusahaan makanan di dalam negeri, ya ada yang diolah menjadi biskuit aroma dan rasa kelapa,” ujarnya.

Selain itu,  KPMK juga mengolah kelapa menjadi sabun mandi cair dan batangan dengan dicampur aroma sereh wangi. “Produksi sabun mandi menyesuaikan dengan produksi minyak, sedikitnya sabun cair 4 liter per hari dan 60 batang sabun per hari,” ujarnya.

Terkait omzet usaha, Yohan Wijaya mengaku koperasi yang dipimpinnya telah memulai kegiatan sejak 2011 dengan dibantu 17 tenaga kerja ini memiliki omzet hampir satu miliar per bulan. Yaitu, produk tepung kelapa mencapai Rp500 juta per bulan, arang batok kelapa sekitar Rp30 juta, coco fiber sebesar Rp100 juta, nata Coco mencapai Rp 200 juta dan ditambah dari sabun cair dan batang yang dijual ke anggota koperasi. (son)