BOJONEGORO (Bisnis Jakarta) – Perajin di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kurang tertarik memproduksi batik tulis halus dengan pewarna memakai bahan alami karena waktu memproduksi lebih lama dibandingkan dengan produksi batik cetak, selain juga harga jualnya lebih mahal.

Pemilik Griya Batik Jonegoroan Bojonegoro Nanik Lusetyani, di Bojonegoro, Kamis, menjelaskan dari puluhan perajin batik yang tersebar di Kecamatan Temayang, Dander, Sumberrejo dan Purwosari, yang memproduksi batik tulis halus dengan pewarnaan alami tidak lebih dari 10 perajin.

Perajin batik di daerah setempat, kata dia, sudah bisa memproduksi batik tulis halus dengan pewarna bahan alami, selain batik cetak, karena memperoleh pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sekitar tiga tahun lalu.

“Perajin yang bersedia memproduksi batik tulis halus di Kecamatan Temayang. Saya juga bisa membuat batik tulis halus, tapi sifatnya tidak tentu, ” kata dia menjelaskan.

Menurut dia, memproduksi satu potong batik tulis halus dengan warna bahan alami membutuhkan waktu bisa satu-dua pekan sepanjang fokus dalam memproduksi.

Sedangkan dalam pewarnaan memanfaatkan akar-akar pohon, juga daun pohon jati selain dengan berbagai aneka tumbuhan lainnya.

“Tapi kalau memproduksi batik cetak bisa ribuan potong hanya dalam sepekan. Ya secara industri batik lebih menguntungkan kalau memproduksi batik cetak, sehingga banyak perajin yang memilih memproduksi batik cetak dibandingkan batik tulis,” kata dia menjelaskan.

Selain itu memproduksi batik tulis butuh waktu lama, menurut dia, harganya juga sangat mahal dibandingkan batik cetak, sehingga kurang menguntungkan.

“Batik tulis dengan warna alami harganya Rp1 juta per potong,” ucap Petugas Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro Ria Lestari.

Mengenai tingkat penjualannya, lanjut dia, batik tulis dengan warna alami bisa laku berkisar 2-3 potong per bulan dengan pembeli lokal, selain juga luar daerah.

Di anjungan dekranasda juga memasarkan batik Jonegoroan cetak berbagai motif, antara lain motif Surya salak Kartika, Pari Sumilak, Rancak Thengul dan Sekar Roseladengan harga mulai Rp65.000/potong, sampai Rp300 ribu/potong dan batik tulis halus Rp1 juta/potong.

Selain itu juga dijual kaos batik Jonegoroan dengan harga berkisar Rp50.000/-Rp85.000/kaos dan pakaian jadi batik Jonegoroan dengan harga berkisar Rp115.000-Rp450.000/potong.

“Selama Puasa Ramadhan tingkat penjualan batik Jonegoroan stabil sama dengan hari-hari biasa,” ucap Ria menambahkan. (ant)