JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Seni lukis dan Warna sudah lama dikenal dan sudah ada dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Terikut juga dengan kedekatan tersebut stigma bahwa seni lukis dan warna adalah ranah seniman atau anak-anak menjadi sangat tidak relevan lagi. Setidaknya, itulah yang ingin disuarakan Faber Castell dengan menggelar ‘The Solo Exhibition of Goenawan Mohamad’ bertajuk WARNA yang berlangsung di Plaza Senayan Jakarta, 30 Mei – 20 Juni 2018.

Managing Director PTFaber-Castell International Indonesia Yandramin Halim usai membuka pameran karya Goenawan Mohamad di Jakarta, Rabu (30/5) mengatakan, Faber Castell sejak beberapa abad lalu sudah merubah stigma tersebut dengan paradigma menciptakan kegemaran baru berupa menggambar untuk relaksasi.

Faber-Castell, kata Yandramin,  sebagai produsen alat tulis gambar susah sejak lama memperkenalkan manfaat menyeluruh kegiatan menggambar baik untuk anak-anak, remaja, dewasa bahkan sampai manula. Mulai dari sebagai wadah untuk luapan emosi dan perasaan, komunikasi di luar bahasa, memupuk kreativitas, latihan konsentrasi, sampai untuk ke giatan relaksasi dan mempertahankan ketajaman pikiran di usia tua.

Untuk menunjang kegiatan ini, kata Yandramin, Faber-Castell banyak melakukan kegiatan pelatihan seni lukis dan warna untuk berbagai kalangan usia karena kemampuan dasar seni lukis dan warna akan membantu pencinta kegiatan ini untuk menikmati proses melukis dan mewarnai. Selain itu, Faber-Castell juga berusaha menginsipirasi khalayak umum melalui pameran hasil seni lukis atau pameran proses pembuatan suatu lukisan.

Aktifnya sastrawan Goenawan Mohamad di dunia lukis, jelas Yandramin, tentu saja merupakan tambahan kekuatan bagi dunia lukis di Indonesia. Ketenaran pemikiran Goenawan Mohamad yang selama ini selalu tertuang dalam bahasa tulisan tentu merupakan daya tarik tersendiri dalam mengapresiasi karya seni lukis yang ditekuninya. “Mengamati lukisan di pameran karya beliau,  bisa jadi ajang latihan reka pesan tersirat yang ada di dalam setiap goresan karyanya,” kata Yandramin.

Sementara Goenawan Mohamad mengatakan, warna punya petualangannya sendiri. Ia tak sekedar mengulang apa yang oleh seseorang perupa di dunia benda-benda. Ia bahkan tak selamanya mengikuti apa yang dikehendaki sang seniman.

Dalam karya cat air, kata budayawan ini, sering warna mengikuti alur dan percampurannya sendiri, seakan-akan hidup, bergerak, dari tangan perupa, dalam kebasahan, ke atas kertas. Tiap desain mengelak, tiap maksud tentatif.

Dengan bantuan Faber Castell, menurut Goenawan, peluang itu mengasyikkan, terutama dengant bantuan teknologi dan peralatan, seperti manfaatkan pensil-pensil Faber-Castell ini. Seraya bekerja, Goenawan merasakan gambar  seburuk apapun adalah sepertiv sulap – dari yang tak ada menjadi ada, dari alam menjadi lepas alam.

Yandramin merasa sangat antusias dengan pameran perdana karya Goenawan Mohamad yang bertemakan Warna. Ia berharap, pameran ini bisa menginsipirasi lebih hnjut penyampaian pesan lewat bahasa universal, juga turut mempopulerkan kegiatan melukis dan mewarnai di semua usia dan kalangan, #Art4All. (son)