Momen Bulan Ramadhan Penting untuk Kepedulian Dhuafa

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Presidium Nasional Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) mengajak ummat Islam mengulurkan tangan membantu kaum Dhuafa (kurang mampu) pada Ramadhan 1439 H.

Koordinator Presidium Nasional FORHATI Hanifah Husein menegaskan bantuan dari para donatur ummat sekecil apapun sangat dibutuhkan mereka sebagai bentuk kepeduliaan terhadap keberadaannya.

“Momen Ramadhan ini menjadi sangat berarti bagi kita semua untuk peduli kepada saudara-saudara kita yang masih jauh dari cukup” ucap Hanifah Husein saat menggelar acara Buka Puasa Bersama Kaum Dhuafa dan Bazar Sembako Murah serta Pelayanan Kesehatan Gratis di Masjid An’ Nur Ainiyyah, Jl. Peta Selatan No.1 RT 1 RW 3 Kalideres, Jakarta Barat, Senin (28/5).

FORHATI masih akan menggelar acara serupa di wilayah Jakarta Pusat pada Kamis 31 Mei 2018, bertempat di Yayasan Fatahillah Sentiong, Jl. Kramat Pulo RT 10 RW 9 Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Siraman rohani direncanakan akan diisi oleh Penasehat Majelis Nasional KAHMI dan juga dilengkapi ceramah tentang Ketahanan Keluarga dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis.

Terakhir untuk wilayah Jakarta Timur, akan diselenggarakan pada hari Senin 4 Juni 2018, bertempat di Masjid Jami’ Shodri Asshiddiq, Penggilingan Cakung, Jakarta Timur. Siraman rohani direncanakan akan diisi oleh Bapak Bahlil Lahadalia (Ketua Umum BPP HIPMI) dan juga dilengkapi ceramah tentang Ketahanan Keluarga dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis.

FORHATI berkomitmen pada kesejahteraan kaum dhuafa juga pada masalah Ketahanan Keluarga. Masalah ini menjadi keprihatinan Forhati karena inti pembentukan generasi yang tangguh berada pada Ketahanan Keluarga. Sementara itu tantangan masalah kehidupan dewasa ini justru melemahkan sendi-sendi keluarga.

Secara umum konsep Ketahanan Keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta memiliki kemampuan fisik materiil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin.

Konsep itu meliputi Ketahanan fisik (ekonomi, kesehatan, perumahan),Ketahanan sosial (pendidikan, budaya), dan Ketahanan psikososial (agama). “Keluarga saat ini dihadapkan pada masalah seperti disorientasi fungsi keluarga, pengalihan pengasuhan anak kepada fihak lain, hambatan interaksi dan komunikasi, serta kegagalan memenuhi hak-hak anak,” sebut Hanifah.

Di sisi lain, ia juga mengaku miris ketika akan-anak dikepung oleh problem seputar mereka seperti ancaman trafiking, narkotika, pornografi, predator seks, tayangan televisi yang tidak mendidik, dan lain-lain.

“Masalah-masalah itu perlu difahami oleh para orang tua, sehingga dari penyuluhan tentang Ketahanan Keluarga yang diberikan oleh Forhati mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi realitas yang sering kali membingungkan itu,” ujarnya. (har)