BANYUWANGI (Bisnis Jakarta) – Dalam mewujudkan perannya sebagai penyangga IMF-World Bank Annual Meeting pada bulan Oktober 2018 di Bali nanti, Bandara Banyuwangi telah mengalami perkembangan yang signifikan. Pada mudik libur tahun ini, Bandara Banyuwangi telah melayani 1000 penumpang perhari atau naik 100 persen dibandingkan tahun lalu.

Executive General Manager Bandara Banyuwangi Anton Marthalius mengatakan, telah melakukan berbagai persiapan di libur mudik lebaran ini 2018 ini. “Kami telah melakukan berbagai persiapan mulai general checkup, pembuatan posko mudik, hingga sinergi dengan pihak terkait. Sebelumnya kami memang sudah melakukan estimasi moderat, dimana jumlah penumpang diperkirakan sekitar 800 orang, dan ternyata sampai 1200 orang per hari,” kata Anton.

Sementara itu terkait perannya sebagai penyangga IMF-World Bank Annual Meeting 2018, Dirut Angkasa Pura (AP) II Mohamad Awaluddin melakukan pertemuan dengan Menpar Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas serta melakukan inspeksi terkait dengan akan ada sepuluh pesawat delegasi pertemuan yang akan mendarat dan parkir di Bandara Banyuwangi. “Untuk pertemuan tahunan IMF-World Bank ini, rencananya ada 17 ribu delegasi yang hadir. Kita sudah memilah, ada sejumlah pesawat dari 10 negara delegasi yang rencananya akan kita parkirkan di Banyuwangi,” kata Awaluddin.

Awaluddin juga mengungkapkan, AP II tengah mengejar pembangunan infrastruktur untuk menyambut IMF-World Bank Annual Meeting 2018 mulai dari perpanjangan dan pelebaran runway, perluasan apron, hingga penebalan landasan. “Pekerjaan yang tengah dilakukan antara lain penambahan runway, dan diperlebar menjadi 45 meter. Tebal landasan ditingkatkan menjadi PCN 56. Penebalan landasan ini dilakukan akhir Juni. Apron juga bakal ditambah 23.000 m2, sehingga total menjadi 41.000 ribu m2,” jelas Awaluddin.

Perkembangan signifikan pada Bandara Banyuwangi tidak hanya terjadi pada peningkatan jumlah penumpang dan pembangunan infrastruktur saja, tapi juga jumlah aktivitas pesawat. Pergerakan pesawat di bandara ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Pada 2017 Bandara Banyuwangi hanya melayani 8 pergerakan pesawat yang terdiri dari 4 pergerakan take off dan 4 pergerakan landing. Sedangkan pada tahun ini ada total 16 pergerakan pesawat, 8 pergerakan take off dan 8 landing.

Tourism Airport

Selain menjadi bandara penyangga untuk IMF-WB Annual Meeting 2018 di Bali, Bandara Banyuwangi bakal dikembangkan PT AP II menjadi tourism airport. Awaluddin mengatakan, benchmark Bandara Banyuwangi adalah Bandara Koh Samui di Thailand. Seperti Samui yang menggandeng Bangkok Airways untuk pengembangan, Bandara Banyuwangi pun akan menggandeng salah satu airlines. Menurut Awaluddin, konsep itu berhasil karena ada strategic partner dengan menggandeng operator maskapai yang membawa traffic penumpang ke bandara.

Awaluddin mengatakan, AP II telah melakukan pendekatan ke beberapa maskapai, dan mencoba untuk jualan dan bersosialisasi ke sejumlah maskapai, seperti bertemu dengan beberapa maskapai di Australia, yaitu dengan Jetstar dan AirAsia.

Menpar sangat mendukung Bandara Banyuwangi menjadi bandara pariwisata. “Untuk pengembangan Bandara Banyuwangi, akan kita head to head dengan Bandara Silangit. Kita harus memikirkan Bandara Banyuwangi sebagai tourism airport ,” ujar Menpar.Arief Yahya juga mengatakan akan membantu AP II untuk membantu airlines partner demi mewujudkan Bandara Banyuwangi sebagai tourism airport. (son)