JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti berbagi pengalaman untuk menjadi seorang yang mampu dan sukses mengubah masyarakat di lingkungannya melalui karir politik yang dijalani. Menurut Bupati Tabanan dua periode ini, untuk memulai menjadi pemimpin, modal utamanya adalah kemauan untuk mau berbuat agar masyarakat di lingkungannya bisa menjadi lebih baik.

Penegasan disampaikan Eka Wiryastuti dalam workshop ‘Kaderisasi PDI Perjuangan Memenangkan Hati Rakyat’ yang juga menghadirkan sejumlah perempuan dari PDIP yang dianggap sukses memimpin daerahnya antara lain Bupati Tulang Bawang Winarti dan Bupati Jember Faida di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta Pusat, Senin (9/7).

“Saya ingin berbuat, karena dasar dari politik itu kita harus berbuat,” kata Eka Wiryastuti yang mengawali karir politiknya sebagai Caleg DPRD Kabupaten Tabanan pada Pileg 2009 dengan perolehan suara terbanyak.

Selain itu, kemauan untuk mau menempa diri menjadi semakin baik juga penting. “Jangan anggap perempuan itu ‘display’, yang menarik untuk dilihat, kalau sudah bosan terus ditinggalkan. Jadilah kader perempuan yang punya kecerdasan bahwa kita mampu, kita bisa,” sebutnya.

Eka mengatakan, keinginan perempuan untuk menjadi pemimpin harus disertai modal untuk memimpin. Oleh karena itu, berbagai organisasi harus ditekuni untuk menempa skill kepemimpinan. Iapun mengikuti berbagai organisasi antara lain Banteng Muda Indonesia (BMI), Keluarga Besar Marhaen dan Srikandi Demokrasi Indonesia.

Dari modal dasar itulah, ia membuktikan mampu memecahkan rekor sebagai bupati perempuan pertama di Bali. Dia mencontoh ketika masih menjadi pengusaha, dirinya merasa hanya bisa membantu sebagai rakyat.

Tetapi, dengan menjadi kepala daerah seperti sekarang, Bupati Eka mengaku tidak hanya bisa berbuat, tetapi berbuat dengan efek yang besar. “Tetapi dengan politik saya bisa membuat kebijakan dan keputusan dengan dampak yang jauh lebih besar, sehingga semakin yang banyak yang bisa saya berikan kepada rakyat,” ujarnya.

Tak lupa, ia mengingatkan kepemimpinan haruslah bersumber dari hati. Untuk itulah, ia menulis buku ‘Investasi Hati’ dan menjalankan program pemerintahan kabupaten Tabanan dengan Investasi Hati. “Kalau sudah pakai hati, apapun program yang kita lahirkan untuk rakyat pasti bagus,” ujarnya.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan workshop bertajuk ‘Kaderisasi PDI Perjuangan Memenangkan Hati Rakyat’ dihelat dalam rangka persiapan pemenangan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019 yang akan digelar secara serentak.

Temu antara kader ini, sebenarnya sudah diadakan secara rutin untuk melakukan sinergi antarkepala daerah dari PDI Perjuangan. “Jadi kami secara rutin mengadakan workshop, untuk melakukan sinergi antarkepala daerah dari PDI Perjuangan dan mendorong kerja sama antar kepala daerah,” ucap Hasto.

Ia mencontohkan beberapa bentuk kerjasama antar kepala daerah seperti Banyuwangi dan Tabanan yang saling bekerjasama untuk menjaga kedaulatan pangan. Selain itu, juga Wali Kota Solo yang bekerjasama dengan Bupati Samosir untuk mendorong program wisata.

“Jadi kerjasama antara kepala daerah dan kebijakan-kebijakan sebagai penjabaran dari idelogi Pancasila terus kami matangkan dan juga kami integrasikan baik secara vertikal maupun horisontal,” imbuhnya.

Lebih lanjut Hasto mengatakan workshop hari ini sengaja kembali diadakan untuk mengambil intisari dari berbagai keberhasilan kepala daerah. “Ini dijadikan model pembumian Pancasila dan sekaligus menjadi langkah persiapan di dalam memenangkan Pileg-Pilpres,” imbuhnya.

Hasto meyakini ketika antar pemimpin yang menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah telah berproses melalui sekolah para calon kepada daerah, maka mereka akan menjadi pejuang-perjuang kepartaian. “Menjadi pejuang-pejuang untuk rakyat, sehingga Pileg akan linier dengan Pilkada serentak,” tandasnya. (har)