JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan nama-nama cawapres yang akan mendampingi calon presiden Joko Widodo telah mengerucut. Nama tersebut akan diputuskan dan diumumkan dalam menunggu waktu yang tepat.

“Pengumuman dilakukan pada momentum tepat, dan dalam cuaca yang cerah, secerah ketika matahari terbit dari timur. Jadi tunggu saja dan sabar,” ujar Megawati Soekarnoputri usai bertemu Jokowi di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Minggu malam (8/7).

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menambahkan pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi terus dilakukan secara intens di Istana Batu Tulis. Pertemuan membahas agenda strategis bangsa.

“Pertemuan pada malam hari ini, Minggu 8 Juli 2018 berlangsung selama 1 jam 50 menit. Beberapa hal strategis dibahas terkait hasil kunjungan Presiden Bank Dunia, Persiapan Asian Games, berbagai agenda strategis bangsa dan negara, termasuk pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden,” terang Hasto Kristiyanto.

Bagi PDIP, Hasto pertemuan kedua pemimpin secara periodik baik di Istana Merdeka, Istana Bogor, maupun Istana Batu Tulis tersebut sangat penting. “Istana Batu Tulis sangat cocok, teduh, menghadap Gunung Salak dengan gemuruh air sungai yang menciptakan suasana kontemplatif, serta membangun suasana kebatinan yang baik untuk membahas berbagai agenda strategis bangsa dan negara, jauh di atas kepentingan pribadi atau golongan. Semua yang dibahas untuk kemajuan Indonesia Raya,” sebutnya.

Selain Itu, pertemuan Batu Tulis tersebut menepis berbagai anggapan dari berbagai pengamat politik yang mencoba membuat jarak bahkan memisahkan antara Presiden Jokowi dengan Ibu Megawati dan PDI Perjuangan. “Kepemimpinan Ibu Mega dan Pak Jokowi itu saling melengkapi dan satu kesatuan. Ibu Mega sangat kokoh dalam prinsip, dan berpolitik dengan keyakinan untuk rakyat; sementara Pak Jokowi dengan kemampuan teknokratisnya serta model kepemimpinan yang membangun dialog, merangkul, dan terus membumikan Pancasila dalam tradisi kepemimpinan yang turun ke bawah, atau merakyat,” ujarnya.

Dengan demikian, Hasto mengatakan kedua pemimpin bangsa tersebut, saling melengkapi, bersinergi, dan disatukan oleh emotional bonding (ikatan emosional) dengan Bung Karno, Proklamator dan Bapak Bangsa Indonesia. (har)