BERPRESTASI – Para mahasiswa FMIPA- IPB ini berhasil menciptakan kompresor oksigen berbasis teknologi membran untuk membantu pernafasan para penyelam.

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA-IPB), berhasil menciptakan sekaligus memperkenalkan sebuah kompresor oksigen, berbasis teknologi membran yang diklaim aman bagi kesehatan. Alat ini sekaligus sangat bermanfaat digunakan para nelayan saat melakukan aktivitas penyelaman.

Annisa Rizki Khairani, Sejahtera dan Shintia, ditemui di kampusnya mengatakan, inovasi tersebut telah diperkenalkan dan masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) unggulan tahun 2018.

“Sebagai Negara maritim, Indonesia memiliki jutaan hasil laut. Tapi sayangnya hasil laut itu tidak semunya ada di permukaan. Kondisi itu mengakibatkan para nelayan kita demi mendapatkan hasil lebih, terpaksa mereka harus melakukan penyelaman hingga ke dasar laut mengunakan alat kompresor angin biasa dalam membantu pernafasan. Padahal kita tahu itu sangat berbahaya bagi kesehatan,” kata Anisa, di kampusnya Kamis, (19/08)

Dengan dilatarbelakangi hal itu, maka Annisa Rizki Khairani dan Shintia, dibawah bimbingan dosen Dr. Akhiruddin Maddu, terus mencoba membuat inovasi kompresor oksigen murni berbasis teknologi membran oksigen untuk menjamin kesehatan para penyelam, khususnya bagi para nelayan Indonesia.

“Kendalanya sekarang ini masih banyak nelayan kita yang tidak memperhatikan faktor keamanan dan kesehatan saat menyelam. Nelayan lebih memilih menggunakan kompresor angin sebagai alat bantu pernapasan dibanding tabung oksigen isi ulang yang lazim digunakan para penyelam professional,” sasalnya.

Penggunaan kompresor angin biasa untuk penyelaman dapat berdampak buruk untuk kesehatan. Secara medis penggunaan kompresor itu dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti  sesak napas, napas cepat, pusing, halusinasi, tekanan darah turun, pingsan, depresi pernapasan, depresi saraf pusat bahkan kematian.

“Hasil survei di Kepulauan Seribu, faktor ekonomi menjadi faktor utama terjadinya penyimpangan prosedur penggunaan alat bantu pernapasan dalam air. Mahalnya biaya isi ulang oksigen menyebabkan nelayan lebih memilih menggunakan kompresor angin biasa untuk membantu pernafasan di dalam air,” papar mereka.

Penyakit-penyakit tersebut dapat terjadi karena sistem kerja dari kompresor angin biasa tidak dapat memfilter udara yang masuk ke dalam kompresor dengan baik. Bukan hanya oksigen yang masuk ke dalam kompresor akan tetapi (N) nitrogen, C02 (Karbon dioksida), bahkan asap mesin kompresor pun ikut masuk ke dalam tabung yang selanjutnya tersalurkan oleh selang terhirup ke dalam hidung penyelam.  “Yang pasti dengan kompresor oksigen membrane ini hanya membutuhkan sedikit biaya,  dapat digunakan untuk bernafas di dalam air dalam waktu yang lama dan aman digunakan.  Tentu kami berharap dengan sentuhan inovasi dan teknologi membrane oksigen seperti ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk keselamatan saat melakukan penyelaman,” pungkas Nissa. (bas)