Pusat Informasi FKH-IPB Gelar Diskusi Persawitan

DiskusiFKH-IPB

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Pusat Informasi Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan diskusi terkait riset isu lingkungan dan bisnis perkebunan kelapa sawit, dengan metode riset tentang Tree and Palm Water Use Assassed by Drone based Imagery, bertempat di ruang Seminar Lt-2, Gedung Tanoto Foundation Information Center (TFIC), Fakultas Kehutanan IPB, Kampus Dramaga Bogor. Rabu, (25/7).

Kepala Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Ir. Hendrayanto, mengatakan bahwa acara diskusi ini digelar dalam rangka turut memfasilitasi sosialisasi penelitian-penelitian Collaborative Research Center 990: Ecological and Sosio Economic Function of Tropical Low Land Forest Transformation System (CRC 990: EFForTS). “Dalam acara ini pemateri yang kami hadirkan diantaranya Joyson Ahongshangbam, mahasiswa program doktor Silvikultur Tropis dan Ekologi Hutan, Universitas Georg-August Goettingen, Jerman. Prof. Dr. Dirk Holscher dari Goettingen Univesity yang tergabung dalam tim peneliti A02 CRC990:EFForT dan pemateri diskusi lainnya,” terang Dr. Ir. Hendrayanto.

Sedangkan jumlah peserta dalam diskusi ini sebanyak 45 orang, terdiri dari dosen, mahasiswa program sarjana dan pascasarjana berbagai program studi di IPB. “Materi diskusi merupakan metode penelitian yang digunakan oleh Joyson dan Florian Ellsaesser. Penelitiannya bertujuan untuk menduga penggunaan air oleh tanaman berdasarkan model volume tajuk dari kebun sawit dan agroforestry dan menduga penggunaan air (evapotranspirasi) pada level tegakan kebun sawit menggunakan model neraca energi dari citra thermal,” jelasnya.

Dr. Hendrayanto, menyampaikan bahwa citra thermal dan parameter tajuk untuk pemodelan fotogrametrik volume tajuk didapat dari pengukuran menggunakan sensor thermal dan kamera yang dibawa pesawat nirawak (drone). Pengukuran selanjutnya ialah pengukuran sap flux dengan berbagai sensor sehingga didapat penghitungan neraca energi yang diduga dengan menggunakan berbagai model, seperti: Dual temperature difference (DTD) model, Two source energy balance (TSEB) model, dan Deriving Atmosphere Turbulent Transport Useful To Dummies Using Temperature (DATTUTDUT) model, juga model Eddy Covariance (Sub Proyek A03).  “Dari keduanya, pendekatan teknik fotogrametrik yang digunakan yaitu penggunaan parameter tajuk yang direkam oleh sensor yang dibawa drone untuk tujuan peningkatan skala hasil pengukuran sap flux,” paparnya.

Dr. Hendrayanto, menambahkan bahwa dari hasil penelitian yang sudah didapat, kesimpulan sementaranya adalah pertama, terdapat hubungan yang kuat antara penggunaan air oleh tanaman dengan parameter tajuk yang direkam oleh sensor yang dibawa drone, yang dapat mereduksi ketidakpastian dalam up-scaling pengukuran sap-flux dan mudah untuk menilai penggunaan air oleh tanaman dalam skala yang luas. Kedua, model neraca energi permukaan menggunakan data citra thermal dapat menduga aliran energi dan air dalam skala luas, namun penggunaan untuk jenis vegetasi dan tipe iklim yang lain perlu kalibrasi lebih lanjut.  “Ya, selain membahas metode pendugaan penggunaan air oleh tanaman terutama sawit, diskusi ini juga mengangkat isu-isu lain terutama terkait dengan kelangkaan air akibat pembangunan kebun sawit, sosial-ekonomi pekebun rakyat dan perusahaan,” pungkasnya. (bas)