JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Bakal calon anggota legislatif (caleg) dari kalangan artis masih menjadi andalan partai politik untuk mendulang suara di Pemilu Legislatif 2019 termasuk PDI Perjuangan.

Agar target perolehan suara bisa maksimal, partai berlambang Banteng Moncong Putih itu menggelar pembekalan kepada para artis yang maju sebagai bacaleg dari PDIP.

Kepada bacaleg artis, PDIP menekankan tentang Indonesia yang berkepribadian di bidang budaya, sebagai salah satu cita-cita Trisakti Bung Karno, bisa sama-sama diwujudkan.

“Bung Karno mengatakan Indonesia berkepribadian dalam kebudayaan, yakni kebudayaan kita,” kata Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam Pembekalan Bacaleg Artis Nusantara di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin (30/7).

Hadir belasan bacaleg artis PDI Perjuangan, antara lain Rano Karno, Tina Toon, Andre Hehanusa, Harvey Malaiholo, Jeffry Waworuntu, Angel Karamoy, Ian Kasela, Krisdayanti, Chica Koeswoyo, Sarry Koeswoyo, Lita Zen dan Kirana Larasati.

Menurut Hasto sebagai partai nasionalis, PDI Perjuangan sadar bahwa lewat tangan para artis yang berkualitaslah, tujuan dari ajaran Bung Karno itu bisa terwujud.

Oleh karena itu, kebudayaan yang harus dimunculkan oleh para artis saat kampanye nanti adalah bukan kebudayaan Amerika, bukan kebudayaan Eropa, bukan India, kebudayaan Arab, bukan kebudyaan China danegara lain.

“Tapi kebudayaan Indonesia sebagai Taman Sarinya kebudayaan-kebudayaan besar dunia yang dibumikan dalam kepribadian bangsa Indonesia,” kata Hasto.

Dia mengatakan kaderisasi PDI Perjuangan, termasuk kepada para bacaleg artis, dilakukan untuk membangun watak kesadaran akan kebudayaan Indonesia.

“Makanya jalan kaderisasi akan membuka kesadaran bahwa kita menghormati dan mengekspresikan rasa cinta tanah air,” imbuhnya.

Kepada para bacaleg artis, Hasto bercerita tentang sejarah kaderisasi partai Pancasilais. Dia mengatakan, kaderisasi baru bisa dilakukan PDI Perjuangan pasca-reformasi 1998, setelah sebelumnya selama 32 tahun rezim Orde Baru memecah belah partai ini.

“Maka ketika Ibu Mega bergabung dengan PDI tahun 1986, dan 1987 ikut pemilu lalu terpilih sebagai anggota DPR. Beliau ke daerah-daerah dan berjuang agar ‘tenggorakan rakyat’ yang selama ini tersumbat, bisa bersuara kembali”, kata Hasto yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Selain menyinggung soal budaya, Hasto juga menekankan kekayaan cita rasa nusantara yang pernah ditulis Bung Karno dalam bukunya dengan judul ‘Mustika Rasa’ pada 1967.

“Dibahas apa yang namanya garam, merica, kemudian daun pandan, cengkeh, jeruk purut, lada putih, kunyit, lada hitam. Itu bumbu-bumbuan kita yang luar biasa,” papar Hasto.

Bung Karno mengatakan, bahwa makanan Indonesia bercitarasa surga. Karena tidak ada negara di manapun sekaya Indoesia dalam hal aneka cita rasa bumbu-bumbu.

Kekayaan cita rasa nusantara inilah yang kemudian disajikan lewat makanan-makanan dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.

“Ada soto, bajigur, ubi kayu. Itu menu utama kita. Sekarang kita meninggalkan itu. Jadi nanti kalau kampanye, buatlah apotek hidup. Kita minum jamu, tauco, tempe, tahu, buntil, oncom,” kata Hasto.

Ada pesan ideologis di balik upaya Bung Karno mempopulerkan bumbu nusantara tersebut. “Dari lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh terjajah oleh makanan impor,” ujar Hasto mengutip pesan sang proklamator.

Ia juga mengungkap makanan favorit Proklamator RI itu. “Bung Karno, itu kesukaannya sayur lodeh. Nah ini kita populerkan kembali,” sebut Hasto. (har)