JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sejumlah Purnawirawan TNI yang bergabung dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari PDI Perjuangan menyatakan kesiapannya memenangkan Joko Widodo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Penegasan disampaikan 15 purnawiran TNI dari tiga matra (Aangkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara) yang menjadi bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari PDIP usai menjalani pembekalan di Kantor DPP PDIP Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Rabu (1/8).

“Saya melihat dalam 3 tahun terakhir kepemimpinan Jokowi telah banyak membawa kemajuan. Realita di lapangan pembangunan banyak dicapai. Oleh karena itu, setelah masuk di partai saya bertekad memenangkan Jokowi untuk periode berikutnya pada periode 2019-2024,” sebut Mayjen (Purn) Bambang Haryanto dalam keterangan mewakili rekan-rekannya.

Bergabungnya para purnawiran TNI itu menambah jumlah kader PDIP yang berlatarbelakang prajurit TNI. Di periode sebelumnya sejumlah kader PDIP dari TNI mencapai jejak keberhasilan dengan lolos menjadi anggota DPR RI seperti Mayjen Purn TNI TB Hasanuddin, dan lainnya.

Laksda (Purn) Yuhastihar menambahkan, dengan status purnawirawan yang disandang, bukan berarti pengabdian kepada berakhir. “Bagi kami tidak ada akhir pengabdian kalau kita mau untuk membangun bangsa ini,” ucap Laksda Yuhastiar.

Sebagai purnawirawan, ia bersama rekan-rekan seangkatannya merasa masih mampu menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk melanjutkan tugas-tugas negara seperti apa yang telah dirintis selama masa tugas di TNI.

“Bisa kami lanjutkan pada masa purna ini kesempatan yang baik untuk meneruskan perjuangan itu adalah melalui PDIP,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengapresiasi sikap para Purnawirawan TNI. Dia menilai soal kesiapan para purnawirawan TNI ini sudah tidak diragukan lagi komitmennya terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan Indonesia.

“Kita sangat mengapresiasi kesiapan para purnawirawan TNI. Beliau-beliau adalah para patriot bangsa, yang nasionalismenya tidak perlu diragukan dan senafas dengan PDI Perjuangan,” kata Hasto.

Ia meyakini, pilihan para purnawirawan TNI kepada PDI Perjuangan karena memiliki kesamaan ideologi karena PDIP merupakan partai ideologis yang meneruskan serta meneladani cita-cita dan perjuangan Bung Karno.

“Beliaulah (Presiden Sukarno) yang mencanangkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat pada tanggal 23 Agustus 1945 sebagai cikal bakal ABRI yang kemudian menjadi TNI yang kita peringati setiap tanggal 5 Oktober. TNI adalah kekuatan pertahanan, dan penjaga kedaulatan NKRI yang terus kita perkuat agar semakin disegani sebagaimana tahun 60an dimana saat itu Angkatan Bersenjata kita terkuat di negara-negara belahan bumi selatan dibawah garus katulistiwa,” papar Hasto.

Hasto mengatakan pembentukan ‘Angkatan Bersenjata’ tak lepas dari dialektika pemikiran Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat pada 1930 bahwa Indonesia akan merdeka ketika Pasifik membara karena Perang Dunia.

Oleh karenanya Bung Karno lebih memilh bekerjasama dengan Jepang dan membentuk PETA yang merupakan cikal bakal ABRI. “Yang merupakan integrasi dari seluruh kekuatan bersenjata Indonesia, mengingat revolusi fisik saat itu menghadirkan banyak laskar rakyat sebagai pembentuk jati diri TNI yang berasal dari rakyat,” kata Hasto.

Soal netralitas, Hasto menegaskan dengan didukung pandangan PDI Perjuangan bahwa TNI adalah alat negara. Itu juga yang membuat Presiden ke-5 RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak pernah memandang latar belakang identitas ketika memilih pejabat TNI.

Sebanyak 15 Purnawirawan TNI yang menghadiri pembekalan bacaleg pada hari ini yaitu Marsda (Purn) Yan Manggesa, Laksda (Purn) Yuhastihar, Mayjen (Purn) Ch. H. Sidabutar, Mayjen (Purn) Bambang Haryanto, Marsda (Purn) Benedictus Widjanarko, Marsma (Purn) Johanes Urip Utomo, Marsda (Purn) Warsono, Kolonel (Purn) Hargo Yuwono, Mayjen (Purn) Sakkan Tampubolon, Kolonel (Purn) Agus Zulkarnain, Brigjen (Purn) Syukran Hambali, Mayjen (Purn) Sturman Pandjaitan, Kolonel (Purn) Sanius Abastari dan Kolonel (Purn) S. Marzuki. (har)