TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Ribuan jiwa penduduk Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dilansir mengalami gangguan jiwa. Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota setempat jumlah ini fluktuatif mengingat banyak keluarga yang tak melapor ke instansi setempat.

“Banyak yang tidak terdata. Karena ada juga ODGJ yang disembunyikan pihak keluarganya dengan alasan malu dan menjadi aib,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Tulus Muladiyono.

Lebih lanjut Tulus mengatakan, penanganan awal yang dilakukan Dinkes Kota Tangsel adalah pengobatan pasien gangguan jiwa di Puskesmas. Jika memang tidak dapat ditangani di puskesmas barulah di rujuk ke RSJ di Bogor dan Grogol, Jakarta.

Tulus menambahkan, Dinkes Kota Tangsel, juga mencatat jumlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (OMDK). Jumlahnya mencapai enam persen dari 1,6 juta jiwa jumlah penduduk Kota Tangsel. “Diestimasikan terdapat enam persen atau 106 ribu jiwa dari 1,6 juta penduduk Kota Tangsel alami OMDK,” ujarnya.

Tingginya jumlah OMDK disebabkan berbagai hal. Antara lain, kurangnya komunikasi dengan lingkungan keluarga, dampak negatif teknologi, stres serta persoalan kejiwaan.

“Umumnya memang permasalah di perkotaan tingkat kestressan yang cukup tinggi. Karena kerja maupun lalu lintas yang padat. Macet orang cepat stres,” pungkasnya. (nov)