JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menyiapkan strategi dan sejumlah langkah dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pasangan capres dan cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amian. Salah satunya adalah langkah ofensif yang berdasarkan data objektif dan valid.

Hal itu disampaikan dalam pembekalan dan workshop juru bicara (jubir) tim kampanye nasional Jokowi-Ma’ruf Amin di Jakarta, Senin (13/8). Sebanyak 103 jubir yang mengikuti pembekalan berasal dari bermacam profesi mulai dari artis, akademisi, pengusaha, hingga anggota DPR RI.

Sedangkan pembicara selaku pemberi materi diisi dari sejumlah Guru Besar dari perguruan tinggi hingga Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK. Dua menteri yang terlihat hadir antara lain Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo dan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.

“Ofensif ini penting untuk mengisi ruang-ruang publik, supaya seluruh apa yang sudah dilakukan Pak Jokowi, masuk juga ke ruang-ruang personal, ruang privat, rakyat merasakan sentuhan kemanusiaan di dalam seluruh program dari Pak Jokowi,” ujar Sekretaris TIm Kapanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto.

Hingga saat ini, Jokowi baru menunjuk Hasto Kristiyanto yang juga Sekjen DPP PDI Perjuangan sebagai Sekretaris TKN. Sedangkan, untuk Ketua Tim Kampanye, Jokowi bersama Ma’ruf Amin dan pimpinan partai pendukungnya masih mencari figur yang dinilai tepat untuk mengisinya.

Hadir pembekalan tersebut para sekjen Koalisi Indonesia Kerja (KIK) antara lain Wakil Ketua TKN, Lodewijk F Paulus (Golkar), Asrul Sani (PPP), Jhonny G. Plate (Nasdem), Abdul Kadir Karding (PKB), Wakil Sekretaris TKN, Verry Surya Hendrawan (PKPI), Raja Juli Antoni (PSI) dan Ahmad Rofiq (Perindo).

Taktik ofensif merupakan taktik antisipasi lawan bicara ketika menyampaikan pendapat. Ketika perdebatan terjadi, para jubir dibekali pengetahuan untuk dapat mengantisipasi kelemahan lawan bicara. Setelah itu, langsung menyerang dan menjatuhkan pendapatnya dengan mengemukakan argumentasi kontra yang didasarkan pada data objektif dan valid.
Hasto mengungkapkan langkah ofensif merupakan arahan langsung dari Jokowi saat bertemu dengan seluruh sekjen parpol koalisi di Rumah Pemenangan Cemara, Jakarta, beberapa hari sebelumnya.

Ia mencontoh narasi yang ofensif tersebut, misalnya jika masyarakat pada masa lalu harus mengantre dan bersusah payah mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), sekarang di bawah kepemimpinan Jokowi, ada sarana yang lebih efektif melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan.

“Ofensif itu dimaknai sebagai sosialisasi dari apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah,” kata Hasto mengutip pesan Jokowi.

Lebih jauh, Hasto mengatakan, Jokowi sangat memahami strategi pemenangan karena sudah empat kali mengikuti pemilu sebagai pasangan calon, yakni dua kali sebagai Calon Walikota Solo, Calon Gubernur DKI Jakarta dan Calon Presiden 2014.

“Pak Jokowi betul-betul langsung menyentuh esensi dari strategi pemenangan untuk memenangkan hati rakyat,” imbuhnya.

Pembekalan akan terus dilakukan sebagai bagian dari konsolidasi organisasi. Ditargetkan dalam waktu dua minggu seluruh tim kampanye tingkat provinsi sudah terbentuk. “Kemudian terus bergerak sampai ke bawah sampai ke tingkat grass root, tingkat desa dan mereka berkoordinasi dalam satu rapat barisan pemenangan,” ujar Hasto.

Sementara itu, Sekjen Partai Nasional Demokrat (NasDem) Jhonny G. Plate menjelaskan, pembekalan dan workshop Juru Bicara TKN padda hari itu fokus pada 5 persoalan, yakni: 1) Kerangka Ekonomi Makro yang Kokoh; Keadilan Ekonomi; 3) Tata Kelola Pembangunan yang Efektif; 4) Pembangunan Berkelanjutan dan Berkesinambungan; dan 5) Kemandirian Ekonomi.

“Kelima fokus isu ini yang dijelaskan dengan data-data yang akurat agar para juru bicara dalam komunikasi publiknya menyampaikan data yang sebenarnya dalam rangka transparansi dan keterbukaan,” ujar Jhonny.

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding menambahkan, pembekalan kepada jubir kampanye juga menyasar di media sosial. “Pada saatnya kita akan beri pembekalan untuk tim medsos. Karena ini yang akan menjadi barisan terdepan dalam mengatasi isu-isu yang disebarkan melalui media sosial,” kata Karding. (har)