Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Himasper IPB) menyelenggarakan program Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar, di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Kampus IPB Dramaga, Bogor.

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Himasper IPB) menyelenggarakan program Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Diskusi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor. Senin (10/09).

Sebelum mempelajari penanganan mamalia terdampar, peserta diajak untuk mengenal terlebih dahulu jenis-jenis mamalia laut. Peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (ITK FPIK IPB), Adriani Sunuddin, memaparkan jenis-jenis mamalia laut yang ada di Indonesia. Sebanyak 35 jenis mamalia laut dapat ditemukan di perairan Indonesia. Mamalia laut memiliki kemampuan menahan nafas cukup lama untuk menyelam. Hal tersebut didukung oleh anatomi dan morfologi khas yang dimilikinya. Penglihatan mamalia laut tidak begitu tajam. Mamalia laut memiliki kemampuan untuk mengubah sistem indra dari visual menjadi audio dan mengembangkan komunikasi suara.

“Penanganan mamalia terdampar yang tepat merupakan hal yang penting kerana dapat meningkatkan peluang kehidupan bagi satwa. Selain itu, dokumentasi yang tepat dapat memahami pengelolaan kawasan konservasi, mengetahui kegiatan di laut yang tidak lestari, dan persebaran satwa laut di Indonesia,” jelas Adriani Sunuddin.

Penanganan mamalia laut secara umum digolongkan menjadi dua kondisi yaitu kondisi hidup dan mati. Penanganan yang tepat pada mamalia laut yang masih hidup adalah diselamatkan. Setelah peserta mempelajari teorinya, simulasi praktik penyelamatan mamalia terdampar dilakukan baik di dalam dan di luar ruangan. “Kejadian terdamparnya mamalia laut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yakni sakit, faktor umur, dimangsa predator, cuaca buruk, disorientasi (gempa dasar laut, gangguan pada sistem sonar, aktivitas seismic, dan suara kapal), kualitas air laut dan lainnya,” terangnya.

Konservasionis dari Whale Stranding Indonesia, Sheyka Nugrahani Fadela mengungkapkan, bahwa sejak tahun 2000 tercatat lebih dari 300 kasus mamalia ikan laut yang dilaporkan terdampar di sejumlah perairan. Tapi kita disini tidak dapat menyatakan secara langsung bahwa keadaan alam sedang tidak baik. “Tapi jika dilihat dampak positifnya, hal tersebut terjadi karena semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya penanganan mamalia terdampar,” paparnya.

Ketua Pelaksana Career Development Training (CDT) IPB, Cheptia Amany mengatakan, bahwa pelatihan penanganan mamalia terdampar ini merupakan salah satu rangkaian program kerja dari Division of Environmental and Social Himasper IPB yang diberi nama Career Development Training. CDT memiliki dua rangkaian kegiatan yaitu Pelatihan Dasar Penggunaan ArcGIS dalam Analisis Data Spasial dan Pemetaan serta Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar. Kedua kegiatan tersebut dilakukan secara terpisah. Pelatihan Dasar Penggunaan ArcGIS tersebut dilakukan terlebih dahulu kemudian diikuti dengan Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar.

“Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah mencetak konservasionis untuk melakukan penanganan yang tepat terhadap adanya peristiwa mamalia terdampar. “Sebagai mahasiswa dari Departemen MSP, kami memiliki kewajiban untuk terus belajar mengenai pentingnya pengelolaan sumberdaya perairan yang ada. Lewat pelatihan ini kami banyak belajar bagaimana cara mengolah data spasial agar dapat dimanfaatkan sebagaimana semestinya juga mengetahui tata cara yang tepat untuk menangani mamalia terdampar,” pungkasnya. (bas)