TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Pembangunan menara pandang di kota Tangerang Selatan (Tangsel) menuai protes alumni sekolah Anti Korupsi (Sakti) Tangerang. Bangunan Menara Pandang dianggap tidak berguna karena dalam satu dekade pascapemekaran daerah ini masih banyak bangunan sekolah yang kondisinya tidak representatif.

“Proyek itu menghabiskan total Rp 29,98 miliar, urgensinya untuk apa?. Miris sementara masih banyak gedung SD mirip kandang ayam,” ungkap Koordinator alumni Sakti, Aan Widya Juniato.

Lebih lanjut Aan mengatakan, pembangunan dan pengawasan tahap pertama dilaksanakan pada 2017 menghabiskan Rp 10,37 Milyar dan 279 juta rupiah. Sedangkan untuk pembangunan dan pengawasan tahap kedua nilainya meningkat menjadi Rp 18,95 miliar dan Rp 383 juta. “Selain itu kenapa memerlukan dua tahap pembangunan?, karena diduga proses pengerjaannya lambat,” ujarnya.

Pemerintah daerah, sambung Aan, juga harus memperhatikan prioritas pembangunan. Mementingkan pelayanan masyarakat dan dampak signifikannya terhadap perekonomian. Bisa juga dialihkan untuk pemberdayaan usaha kecil menengah, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan atau membangun infrastruktur lainnya. Seperti jalan dan tempat pengelolaan sampah dari pada membangun Menara Pandang yang masih tidak jelas manfaatnya bagi masyarakat.

“Walikota Tangerang Selatan harus menjelaskan apa urgensinya membangun menara pandang itu?,” tandasnya. (nov)