Himpunan Mahasiswa Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (Himafarin) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan Festival dan seminar Perikanan Tangkap Nasional (Festanas) tahun 2018.

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Himpunan Mahasiswa Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (Himafarin) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan Festival Perikanan Tangkap Nasional (Festanas) tahun 2018, di gedung Auditorium Sumardi Sastrakusumah, FPIK Kampus IPB Dramaga Bogor, kemarin.

Sekretaris Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK IPB, Dr. Iin Solihin, dalam kegiatan tersebut mengaku sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Festanas tahun 2018. Ia mengajak mahasiswa perikanan untuk turut serta memberikan ide-ide cemerlang dalam membantu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Sebagai mahasiswa perikanan, saya berharap supaya (anda) memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap persoalan perikanan Indonesia. Meskipun mahasiswa belum mampu menyelesaikan permasalahan secara langsung, setidaknya mahasiswa perikanan dapat angkat bicara untuk membantu menyelesaikan persoalan perikanan di Indonesia,” ujar Dr. Iin.

Dr. Iin menegaskan bahwa tugas mahasiswa tidak hanya sebatas pada kuliah dan praktikum, melainkan perlu sharing ilmu tentang permasalahan perikanan. Sharing tersebut perlu dilakukan untuk mengimplementasikan ilmu yang dimiliki. Meskipun mahasiswa belum mampu menyelesaikan permasalahan perikanan secara langsung, setidaknya mahasiswa dapat menyumbangkan ide-ide solutif dalam menangani permasalahan perikanan di Indonesia.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FPIK IPB, Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, mengaku akan berusaha supaya mahasiswa FPIK IPB dapat memanfaatkan waktu weekend untuk terlibat langsung dalam memajukan perikanan Indonesia. “Kami akan berusaha menghadirkan kurikulum yang hari Sabtu dan Minggu mahasiswa FPIK IPB tidak ada kegiatan kuliah dan praktikum, untuk terjun ke masyarakat dan belajar langsung di lapangan tentang perikanan,” tegas Prof. Joko.

Prof. Joko berharap dengan diberlakukannya kurikulum tersebut, mahasiswa mampu menganalisis permasalahan perikanan dan dapat memecahkan permasalahan tersebut sesuai kompetensi yang dimiliki.

Kegiatan seminar nasional Festanas tahun 2018 ini bertujuan mempertemukan berbagai elemen yang berperan penting dalam memajukan perikanan Indonesia. Beberapa elemen yang dihadirkan adalah pemerintah, perusahaan, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam Festanas 2018 dibahas tentang upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros martitim dunia melalui Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) kelautan dan perikanan.

Sebagai negara kepulauan yang memiliki garis pantai lebih dari 99 ribu kilometer, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maritim terbesar di dunia. Potensi maritim di Indonesia tidak hanya berasal dari sektor perikanan tangkap maupun olahannya. Tetapi potensi tersebut termasuk potensi wisata maritim yang tersebar di sepanjang garis pantai Indonesia. Salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan adalah wisata diving. Dengan pertumbuhan divires sebesar 15,7 persen di dunia dan kekayaan bawah laut yang melimpah, Indonesia menjadi pasar potensial untuk berwisata.

Di sisi lain, industri perikanan tangkap di Indonesia juga sangat menjanjikan. Tidak hanya ikan, udang, dan kepiting, ternyata Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi pangsa pasar rajungan di Amerika. Rajungan atau kepiting bakau ini sangat potensial untuk dikembangkan mengingat permintaan pasar Amerika yang tinggi sedangkan industri yang mengembangkan rajungan di Indonesia masih sedikit. (bas)