Tiga Mahasiswa IPB, Juarai LKTI 2018

Tiga mahasiswa IPB ini berhasil menyabet juara satu dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mechanomorphosa Competition, tingkat mahasiswa tahun 2018

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Intan Permata Sari, Ilfia Shahirah dan Winda Oktaviona adalah tiga mahasiswa dari Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil menyabet penghargaan (juara) dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) ‘Mechanomorphosa Competition 2018’ yang dilaksanakan di Universitas Bangka Belitung.

Para mahasiswa IPB itu dinilai berhasil membuat ide atau gagasan berlian terkait dengan teknologi distribusi pangan dalam upaya mendukung program nasional dibidang ketersediaan dan ketahanan pangan untuk wilayah Indonesia Timur.

“Ya, isu ketersediaan pangan memang menjadi hal utama yang senantiasa menuntut para mahasiswa pertanian untuk terus melakukan inovasi. Sebab, mahasiswa sendiri pada dasarnya adalah agen perubahan atau of change’ termasuk di bidang ilmu pertanian,” kata Intan Permata Sari, dikampunya. Rabu, (17/10).

Intan mengaku, ide atau gagasannya terkait teknologi distribusi pangan tersebut selanjutnya meraka tuangkan dalam sebuah artikel berjudul ‘Teknologi dan Inovasi dalam Membangun Peradaban Bangsa’ yang diikutsertakan dalam ajang lomba karya tulis ilmiah tingkat mahasiswa itu.

“Jujur kami bangga sekaligus tidak menyangka, ternyata karya tulis kami dalam lomba LKTI 2018, di Universitas Bangka Belitung kemarin berhasil masuk dan menjadi juara,” ujarnya.

Lebih lanjut Intan, menjalskan bahwa teknologi monorel sangat cocok diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia. Di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung distribusi pangan dapat dikategorikan lambat. Sebagai contoh sayuran yang di jual di Bangka Belitung sangatlah mahal.

“Teknologi monorel ini sangat diperlukan dan cocok untuk daerah kepulauan di Indonesia, contohnya Bangka Belitung. Sayuran di sana sangat jarang dan distribusinya lambat dan mereka kebanyakan hanya makan ikan. Selain itu contoh lain adalah harga jus buah di Bangka Belitung tiga kali lipat dari yang dijual di Bogor,” terangnya.

Banyak keunggulan monorel dibanding roadbase dan waterbase transportation. Adapun keunggulan dari monorel adalah perawatan yang lebih mudah, bertahan hingga puluhan tahun, dan memakai sistem komputerisasi sehingga rendah human error. Kelemahan roadbase dengan contoh bus yaitu perlu penggantian ban dan komponen lain, sedangkan waterbase memerlukan biaya tinggi untuk bahan bakar.

“Karena kita basisnya studi literatur, kami juga telah melakukan komparasi dengan berbagai jurnal dan telah membandingkan monorel dengan alat transportasi roadbase maupun waterbase. Ternyata monorel lebih mudah dalam perawatan, bertahan hingga puluhan tahun, kemudian memakai sistem komputerisasi sehingga rendah human error. Sedangkan untuk roadbase perlu perawatan intensif seperti mengganti ban. Selain itu juga butuh bahan bakar yang relatif banyak untuk waterbase,” papar mereka. (bas)