Beri Daftar Pertanyaan Debat, Orisinalitas Calon Hilang

    20
    JAKARTA (Bisnis Jakarta)-

    Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) meninjau ulang rencana penyelenggara pemilu tersebut memberikan semua daftar pertanyaan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden. "Masih H-10 dari jadwal debat pertama, Kami mendorong KPU untuk meninjau ulang langkah untuk memberikan semua daftar pertanyaan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden," ucap Titi di Jakarta, Senin (7/1).

    Sebenarnya menurut Titi, tema debat sudah ditentukan oleh KPU. Debat pertama akan mengangkat tema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Debat kedua mengangkat tema energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan infrastruktur. Debat ketiga bertemakan pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta sosial dan kebudayaan.

    Debat keempat membahas tema ideologi, pemerintahan, pertanahan dan kemanan serta hubungan internasional. Terakhir, debat kelima akan memperdebatkan tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, serta perdagangan dan industri. "Dalam pandangan kami, tema debat itu sendiri sudah merupakan kisi-kisi yang sangat memadai bagi para pasangan calon. Mengapa tidak cukup hanya itu saja? Mengapa malah dilengkapi dengan penyampaian pertanyaan? Itulah yang jadi pertanyaan besar bagi publik," gugat Titi.

    Lebih jauh, Titi mengingatkan jika paslon sudah diberi daftar pertanyaan sebelum debat, maka pemilih sebagai pemirsa debat akan kehilangan aspek orisinalitas masing-masing pasangan calon. Apalagi untuk melihat respon natural calon dalam menghadapi peristiwa tidak terduga.

    Dia mempertanyakan apakah masih mampu bersikap substantif, sistematis, dan tepat sasaran. Konsep, komitmen, dan keberpihakan atas suatu isu yang diuji secara apa adanya dalam debat yang spontan. "Pemimpin sudah semestinya bisa bekerja di bawah tekanan. Maka, manfaat dari pertanyaan yang dirahasiakan dan disampaikan di tempat acara juga bisa melihat daya tahan dan adaptasi calon untuk bekerja di bawah tekanan ataupun situasi dan kondisi yang tak terduga," ingatnya.

    Sebelumnya, Anggota KPU RI Pramono Ubaid Thantowi mengatakan lembaganya berpandangan inti utama dari tahapan debat capres dan cawapres adalah pada penyampaian gagasan. Karena itu, KPU tidak ingin membuat debat seperti acara kuis yang berisi tebak-tebakan karena justru bisa melenceng dari substansinya. "Dengan demikian, yang dikedepankan adalah penyampaian gagasannya, bukan pertunjukan atau shownya," ujarnya.

    Kendati demikian, ia mengakui KPU juga tidak mengabaikan aspek pertunjukan dalam debat pilpres nanti. "Karena itu, maka soal-soal yang diberikan tidak sepenuhnya terbuka. KPU mengkombinasikan metode setengah terbuka dan tertutup," ujarnya. (har)