Perhutanan Sosial Jadi Motor Ekonomi Baru

    LUMAJANG (Bisnisjakarta)-
    Upaya mengangkat perekonomian warga penggarap lahan di pinggir hutan melalui Program Perhutanan Sosial binaan BNI mulai membuahkan hasil. Salah satu penerima manfaat program ini yaitu Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Lestari di Lumajang, Jatim sukses mengembangkan potensi bisnis di daerahnya.

    LMDH Wono Lestari ini mampu mengembangkan beragam produk seperti susu sapi yang dipelihara dari rumput gajah yang ditanam diatas lahan bersertifikat Program Perhutanan Sosial. Produk lainnya adalah pisang, madu, hingga tanaman hutan yaitu getah damar.

    Produk susu ini akan dikembangkan untuk pengolahan susu bernilai tinggi. Sukses LMDH Wono Lestari ini tidak terlepas dari kredit usaha rakyat (KUR) yang disalurkan BNI bagi pengembangan usaha para petani anggota LMDH tersebut.
        
    LMDH Wono Lestari menjadi salah satu dari 9 kelompok Perhutanan Sosial terbaik di Indonesia berdasarkan penilaian dari Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan. LMDH Wono Lestari memiliki 367 anggota yang mengolah lahan di sekitar hutan seluas 940 hektar. Dengan adanya Program Perhutanan Sosial, sebanyak 367 petani anggotanya mendapatkan Surat Keterangan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK). Dengan adanya sertifikat tersebut, petani tergerak untuk turut menjaga hutan, bukan merusaknya demi menanam tanaman pertanian.
            
    Bambang Setyatmojo Pemimpin Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI menuturkan, berbagai manfaat yang diperoleh petani dan peternak yang mengikuti Program Perhutanan Sosial mendapatkan berbagai keuntungan yaitu Mendapatkan Hak Pengelolaan lahan hingga 35 tahun, berkesempatan memperoleh dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari BNI, tidak hanya memperoleh KUR melainkan juga layanan perbankan lain yaitu Kartu Tani, mendapatkan pembinaan secara profesional dan intensif, serta mendapatkan kepastian pasar.

    Kondisi Desa Burno, tempat LMDH Wono Lestari berada mencatat perubahan signifikan sejak Program Perhutanan Sosial menyentuh desa tersebut, antara lain pembiayaan KUR kepada 205 penerima SK sebesar Rp 4,6 miliar dengan jumlah sapi meningkat dari 400 ekor menjadi 882 ekor, produksi sapi meningkat dari 3.000 liter per hari menjadi lebih dari 5.100 liter per hari, dan jumlah ternak kambing tumbuh dari 8.000 ekor menjadi 11.000 ekor.

    Sebelumnya, BNI telah menjadi bagian penting dalam penyaluran KUR Program Perhutanan Sosial di Jambi; Palembang Sumatera Selatan; Jawa Timur; dan Jawa Barat kepada para petani penggarap lahan hutan. Sejak tahun 2017, BNI sudah berkiprah dalam Perhutanan Sosial di Jawa Timur. Dimana sampai dengan 31 Januari 2019, penyaluran KUR BNI di Perhutanan Sosial sebesar Rp 18,8 miliar yang diterima oleh 3.170 penerima SK Perhutanan Sosial. (son)