Katarak Tak Selalu Identik Dengan Manusia Senjakala, Bayi Bisa Terkena Katarak

    195
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Penyakit katarak masih menjadi ancaman penyebab seseorang mengalami kebutaan. Dari beberapa jenis penyakit mata, katarak menyumbang 60 persen penyebab kebutaan mata. Demikian diungkapkan dr. Rien Widyasari, Sp.M, Dokter Mata di KMN Eye Care saat seminar di Jakarta, Kamia (28/11) lalu.

    Seminar dalam rangka Ulang Tahun Klinik Mata Nasional (KMN) Aye Care ke-XV mengambil tema Katarak Bisa Mengancam Anak. Bagaimana Mengatasi Katarak dan Mencegahnya menghadirkan juga Dr. Yuni Astuti, MARS, selaku General Manager KMN Eye Care Jakarta Selatan.

    Menurut dr. Rien, penyakit katarak bisa dialami oleh siapa saja, tak hanya pada lansia dan orang dewasa namun juga anak-anak dan bayi. Akan tetapi, sering kali penyakit mata ini dianggap enteng bagi sebagian orang. Padahal jika tak segera mendapat penanganan tepat, katarak bisa mengakibatkan gangguan penglihatan hingga kebutaan.

    Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata manusia yang diakibatkan proses degenerasi (aging process) atau proses penuaan.

    Menurut dr. Rien Widyasari, angka kebutaan paling tinggi di Indonesia hampir 60 persen disebabkan oleh katarak. Penderita katarak, umumnya akan mengeluh penglihatan buram atau berkabut. "Asal kata dari katarak itu berasal dari bahasa Yunani, yang mengandung arti yaitu air terjun atau waterfall. Kenapa disebut demikian ? Karena pada pasien-pasien yang menderita katarak biasanya keluhannya adalah penglihatannya berkabut seperti melihat dibalik air terjun. Terlihat tetapi berkabut atau ketutupan asap biasanya bilangnya seperti itu," kata dr. Rien.

    Biasanya, kata dr. Rien, katarak akan berkembang secara perlahan hingga membuat penglihatan menjadi semakin buram. Namun tak seperti penyakit pada umumnya, orang yang terkena katarak bahkan tak merasakan sakit pada mata mereka. "Katarak ini gejala utamanya biasanya hanya buram, tetapi perlahan semakin lama semakin buram dan makin buram. Jadi kadang-kadang orang tidak ngeh seperti itu, sampai terakhir kok kaya buram gitu ya. Biasanya tidak ada rasa sakit, tidak ada merah, tidak berair kemudian buramnya pun itu menetap," ungkap dr. Rien.

    Tak hanya karena faktor usia, dr. Rien mengatakan, banyak hal yang menjadi penyebab seseorang menderita katarak. "Penyebab lain yang paling sering adalah trauma, tapi jumlahnya agak sedikit ya. Trauma mata misalnya, pernah kena pukul, atau misalnya kecelakaan, nah itu dia akan mengubah metabolisme lensa sehingga terjadi katarak lebih cepat. Sekarang lumayan cukup banyak juga kasus-kasus pasien usia muda sudah katarak, biasanya juga karena ada faktor penyakit lain seperti diabetes atau penyakit gula. Di mana kadar gula yang tidak terkontrol itu akan menyebabkan kekeruhan lensa itu akan terjadi lebih cepat," ujarnya.

    Baca Juga :   Kapal Patroli Kemenhub Amankan Kapal Kayu di Selat Singapura

    Selain itu, penggunaan obat steroid dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan katarak. "Kemudian ada juga beberapa efek samping obat, tetes mata maupun obat yang diminum yang lebih bisa mempercepat terjadinya katarak, contohnya adalah obat-obat yang mengandung steroid, jadi itu kumulatifnya efek sampingnya bisa berakibat terjadinya katarak. Kemudian minus tinggi, orang-orang diatas minus 6, biasanya akan lebih cepat terjadi katarak," paparnya.

    Bayi Terancam Katarak

    Sementara katarak yang terjadi pada bayi bisa disebabkan karena kelainan kongenital atau cacat bawaan dari lahir. "Kongenital atau bawaan dari lahir, ada bayi yang baru lahir terus ada katarak. Biasanya saat hamil ibunya menderita sakit, jadi pada saat pembentukan lensa dia terinfeksi, contohnya misalnya pada kasus terserang Rubella atau campak pada ibu," tambah dr. Rien.

    Selain Rubella, ibu yang menderita toksoplasma saat hamil juga berisiko menyebabkan bayi terkena katarak. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil mengetahui gejala dan ciri-ciri katarak pada bayi sejak dini sehingga Si Kecil bisa mendapatkan penanganan tepat. "Kalau pada saat lahir sudah terjadi katarak, biasanya kita akan lihat cirinya adalah matanya kaya mata kucing berkilat. Kalau memang nanti katarak, biasanya kita akan berusaha secepat mungkin untuk diangkat karena kan anak itu penglihatan adalah belajar, di bawah 2 bulan itu kita sebenarnya sudah harus diangkat," katanya. 

    Jika bayi atau anak dalam kondisi baik dan berat badannya cukup, maka ia bisa segera dioperasi. "Tapi kita harus lihat kondisi anak juga, misalnya beratnya cukup enggak untuk kita operasi dan anak terutama harus segera mungkin sih selama dia sudah oke kondisi fisiknya kita angkat," papar dr. Rien.

    Baca Juga :   Penyidik Periksa Pembobol Bank MANDIRI RP1,4 Triliun

    Meski katarak terdengar menakutkan, namun jangan khawatir. Penyakit mata ini dapat disembuhkan dengan operasi. Tetapi, sebelum memutuskan operasi katarak, biasanya dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan dari tahap awal sampai akhir. "Jadi sebelum kita menganalisa, kita harus cek semuanya sama seperti dengan katarak, buram, apakah buramnya disebabkan oleh katarak, apakah syarafnya masih berfungsi, jadi untuk apa sih kita akan mengecek semuanya? Untuk menentukan prognosis. Dokter nanti setelah dioperasi kira-kira saya bisa lihat enggak? Jadi makanya kita harus cek dari depan sampai belakang," tuturnya. 

    Dengan pemeriksaan tersebut, dokter bisa mengetahui apakah katarak yang diderita tergolong tebal atau tidak, begitu pula dengan sarafnya. Untuk melihat anatomi saraf pasien, bukan tak mungkin terkadang dokter akan membutuhkan alat bantu seperti USG.

    dr. Rien Widyasari menjelaskan, secara garis besar ada beberapa tingkatan katarak dari 1 sampai 5. "Satu paling tipis, yang 5 paling tebal. Kalau sudah begini, dia hanya bisa lihat gelap sama terang. Jadi cuma lihat cahayanya aja," ungkapnya.

    Ia juga menambahkan, jika katarak terbagi dari beberapa jenis dan warna. "Ada beberapa jenis katarak juga, ada beberapa warna juga, dan masing-masing orang berbeda, jangankan masing-masing orang, masing-masing mata sebelah mata pun bisa berbeda tipenya," katanya.

    dr. Rien Widyasari, Sp.M mengatakan, operasi katarak biasanya bergantung pada kebutuhan pasien dan bisa dulakukan setiap saat. Namun, jika sudah terasa mengganggu aktivitas kebanyakan dokter akan menyarankan untuk operasi. "Kalau sudah grade 3 yang ditengah-tengah, itu biasanya disarankan untuk diangkat, karena bagi pasien itu pasti sudah mengganggu penglihatannya, kemudian buat kami para dokter untuk mengerjakan grade 3 itu akan lebih mudah dibanding saya harus mengerjakan grade 5 yang keras," ujarnya.

    Layanan Sepenuh Hati

    Dr. Yuni Astuti, MARS, selaku General Manager KMN Eye Care Jakarta Selatan mengatakan, operasi katarak sejauh ini merupakan opsi terbaik untuk memulihkan mata agar dapat melihat kembali dengan jelas dan jernih. Ada 2 teknik operasi katarak, yaitu ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) dan Phacoemulsification. "Teknik ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) jadi ini secara manual, di mana luka operasinya lebih lebar sehingga diperlukan jahitan yang lebih banyak. Kenapa dia enggak boleh kena air ya itu, supaya jahitannya biar lebih kedap dulu, biar menyatu dulu baru bisa kena air, sama angkat-angkat berat juga tidak boleh supaya mencegah jahitannya tidak lepas. Sedangkan sekarang, tekniknya lebih modern dengan teknik Phacoemulsification kita pakai mesin, ini lebih simple lebih singkat waktunya dan lukanya pun lebih kecil," jelasnya.

    Baca Juga :   Program Mentorship BUMN Muda Siapkan The Next Leader

    Untuk melakukan operasi katarak dengan teknik Phacoemulsification atau tanpa jahitan, bisa dilakukan  di berbagai rumah sakit yang menyediakan layanan operasi katarak, seperti di KMN Eye Care. "KMN Eye Care didukung oleh dokter-dokter yang mempunyai keahlian di bidang ini. Hampir semua dokter yang bergabung di KMN Eye Care telah menjalani fellowship operasi dengan teknik fakoemulsifikasi baik di dalam maupun di luar negeri, sampai benar-benar menguasai dengan baik," ujar Dr. Yuni Astuti, MARS.

    Tak hanya itu, kata dr. Yuni, pasien operasi juga akan dikerjakan oleh 2 dokter spesialis sekaligus. "Pasien operasi akan dikerjakan oleh 2 dokter spesialis, yakni spesialis mata itu sendiri serta spesialis anestesi yang bertugas memantau kondisi tanda vital dari pasien, sehingga dokter mata bisa berkonsentrasi penuh hanya di area mata," ungkapnya. 

    KMN EyeCare yang hadir di Jakarta dan Semarang mempunyai dokter mata terbaik di Indonesia dengan pengalaman bertahun-tahun dalam bidang keahliannya masing-masing untuk menangani berbagai gangguan mata seperti masalah di retina, katarak, LASIK, mata kering (dry eye), glaukoma, mata juling (strabismus), dan lain-lain.

    Dilengkapi dengan teknologi terdepan dalam layanan kesehatan mata di Indonesia, Yuni mengatakan, KMN EyeCare akan melayani dan menangani masalah kesehatan mata Anda dengan layanan sepenuh hati. (son)