BISNISJAKARTA.co.id – Bank Indonesia (BI) tidak lagi menyinggung peluang untuk penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Selasa, seiring meningkatnya risiko global dan tekanan nilai tukar rupiah.
“(Dengan adanya) dampak perang Timur Tengah, itu kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI-Rate selama ini,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa (17/3).
Perry mengatakan bahwa keputusan ini untuk mempertahankan BI-Rate dilakukan demi memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi dan kecukupan cadangan devisa.
Di samping itu, optimalisasi suku bunga, intervensi dan kecukupan cadangan devisa juga akan terus ditakar ke depan sesuai dinamika yang berkembang. Perry menyampaikan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah turut dilakukan melalui penguatan operasi moneter dengan berbagai instrumen yang ada, yang diarahkan untuk menarik kembali atau setidaknya menahan arus keluar portofolio asing.
Langkah ini mencakup penguatan kebijakan lalu lintas devisa melalui ketentuan pelaporan lalu lintas devisa (LLD) yang akan berlaku mulai April 2026. Adapun pada RDG Maret 2026, BI kembali mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen. Begitu pula suku bunga deposit facility dan lending facility yang tetap masing-masing pada level 3,75 persen dan 5,50 persen.
BI menyampaikan keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Langkah ini menandai dipertahankannya BI-Rate sejak Oktober 2025, setelah penurunan sebesar 150 bps sejak September 2024 atau 125 bps sepanjang tahun 2025. Sebelum meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang ditandai dengan serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, BI dalam berbagai kesempatan masih menyinggung peluang penurunan BI-Rate pada tahun ini dengan tetap mempertimbangkan data ekonomi terkini (data dependent).
Nilai tukar Rupiah pada 16 Maret 2026 tercatat sebesar Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen (point to point/ptp) dibandingkan dengan level akhir Februari 2026 sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-dolar AS.
BI mencatat bahwa pada Maret 2026, investasi portofolio mengalami net outflows sebesar 1,1 miliar dolar AS dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terjaga sebesar 151,9 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Sumber : Antara



