
BISNISJAKARTA.co.id – Pemerintah mencatat inflasi nasional pada Januari 2026 dalam kondisi terkendali. Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi tercatat -0,15 persen, yang didorong oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar -0,30 persen. Kondisi ini menunjukkan efektivitas langkah pengendalian inflasi, khususnya pada sektor pangan.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri, Senin (9/12/2026), menyampaikan bahwa deflasi Januari 2026 dibandingkan Desember 2025 (mtm) terutama disumbangkan oleh kelompok pangan, antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam ras.
“Kita melihat di sini kelompok makanan, minuman, dan tembakau—atau yang disebut volatile items—mengalami deflasi sebesar minus 1,03 persen. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar terhadap penurunan inflasi dari bulan ke bulan,” ujar Tito.
Sejalan dengan hal tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan dan stok pangan nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi untuk menghadapi rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Idulfitri 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa kesiapan produksi dan stok menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan serta pengendalian inflasi.
“Kalau kita lihat proyeksi neraca pangan yang dimiliki Badan Pangan Nasional, tentu kita yakin bahwa produksi kita bagus dan stok kita cukup dalam rangka menghadapi Idulfitri, Ramadan, termasuk Hari Raya Nyepi dan Imlek,” kata Ketut.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bapanas terus memperkuat berbagai langkah intervensi di lapangan, baik melalui Operasi Pasar SPHP, Gerakan Pangan Murah (GPM), penyaluran bantuan pangan, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), maupun intervensi lainnya. Upaya tersebut dibarengi dengan pengawasan ketat bersama Satgas Saber Pelanggaran Pangan.
“Satgas Saber Pelanggaran Pangan melakukan pengawasan di samping intervensi teknis yang kami lakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan,” jelasnya.
Ketut menegaskan bahwa pengawasan difokuskan pada praktik-praktik yang berpotensi mengganggu stabilitas harga dan pasokan pangan.
“Yang kami tindak itu praktik penimbunan, menjual di atas HET, dan mengambil keuntungan berlebih,” tegas Ketut.
Sementara itu, Satgas Pangan Polri melalui Brigjen Pol. Zain Dwi Nugroho menyampaikan bahwa sejumlah komoditas masih menjadi perhatian utama, di antaranya Minyakita, daging ayam ras, cabai rawit merah, dan bawang putih, yang di beberapa wilayah masih berada di atas harga acuan.
“Komoditas tersebut perlu diantisipasi, terutama dengan mempertimbangkan curah hujan yang cukup tinggi serta meningkatnya permintaan menjelang puasa dan Lebaran,” jelas Zain.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah akan memfokuskan penguatan stok dan pasokan, khususnya cabai rawit dan cabai merah, serta memastikan Satgas Saber Pelanggaran Pangan bekerja secara intensif hingga Idulfitri untuk menjaga inflasi pangan tetap terkendali.
“Satgas Saber Pelanggaran Pangan ini bekerja setiap saat, setiap hari, sampai nanti Idulfitri,” tutup Ketut Astawa.



