Pengawasan Keuangan RI Harus Tetap Waspada Terhadap Kerentanan

JAKARTA (bisnisjakarta.co.id) – Asisten Direktur Departemen Western Hemisphere Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Cheng Hoon Lim mengingatkan agar pengawasan keuangan Indonesia harus tetap waspada terhadap kerentanan yang muncul. “Indonesia bisa memantau dengan cermat dampak suku bunga yang lebih tinggi pada bank dan sektor korporasi,” kata Lim dalam keterangan resmi yang dikutip dari antara, Jumat (24/3).

Dengan tingkat utang pemerintah yang tinggi pada neraca bank, sambung dia, kehati-hatian fiskal yang berkelanjutan dan pengawasan bank yang ketat diperlukan untuk meminimalkan risiko yang berasal dari hubungan bank dengan negara.

IMF menilai sistem keuangan Indonesia tampaknya tangguh lantaran perbankan menikmati penyangga yang kuat dan pertumbuhan kredit yang kuat. Maka dari itu dengan risiko sistemik yang moderat, kebijakan makroprudensial Indonesia secara umum tidak berubah tahun ini, dengan menuju sikap yang lebih netral pada tahun 2024.

Menurut Lim, manajemen ekonomi makro Indonesia yang berhati-hati telah mempertahankan ruang kebijakan dan meninggalkan penyangga kuat untuk merespons guncangan yang merugikan.

“Dalam lingkungan global yang tidak pasti, kebijakan harus tetap gesit dan diarahkan untuk melanjutkan rekor stabilitas ekonomi dan keuangan Indonesia yang kuat,” tuturnya.

Oleh karenanya, ia berharap nilai tukar rupiah bisa terus memainkan peran sebagai peredam kejut atau shock absorber, meskipun intervensi valuta asing mungkin akan tepat dilakukan dalam kondisi dan guncangan tertentu.

Di sisi lain, Lim menyebutkan Bank Indonesia (BI) tetap waspada dalam memantau perkembangan inflasi dan memperketat kebijakan moneter untuk mengatasi risiko inflasi. Dengan begitu, sikap kebijakan BI saat ini secara umum dinilai netral dan sesuai.

Inflasi diperkirakan kembali ke target pada pertengahan 2024, namun BI harus siap untuk bertindak tegas jika tekanan harga muncul kembali.

“Seiring normalnya perekonomian, BI dapat mengambil tindakan lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter,” ucap Lim. *rah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button