EkobisHeadline

Tantangan Terbesar Distribusi Logistik Periode Ramadhan

BISNISJKARTA.co.id – Aktivitas logistik nasional selama Ramadhan diperkirakan meningkat signifikan dengan lonjakan volume distribusi barang yang dapat mencapai sekitar 30 persen dibandingkan periode normal, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat dan transaksi perdagangan daring.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan lonjakan tersebut terjadi pada seluruh rantai pasok, mulai dari distribusi antarwilayah hingga pengiriman ke pusat konsumsi.  “Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 30 persen,” kata Mahendra di Jakarta pada Rabu (11/3).

Menurut dia, peningkatan aktivitas distribusi tersebut juga sejalan dengan naiknya transaksi perdagangan elektronik selama Ramadhan yang diperkirakan tumbuh sekitar 15–20 persen. Dalam sistem logistik modern, khususnya pada sektor e-commerce, pengiriman barang umumnya dilakukan melalui mekanisme konsolidasi muatan sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah. “Order yang masuk biasanya dikumpulkan dulu sampai menjadi satu muatan penuh truk, kemudian dikirim dari hub ke hub besar seperti di Semarang, Bandung, atau Surabaya sebelum didistribusikan ke wilayah tujuan,” ujarnya.

Dari hub utama tersebut, barang kemudian diteruskan ke hub regional hingga ke tahap distribusi terakhir atau last mile yang umumnya dilakukan di dalam kota. Sejumlah kategori produk mengalami lonjakan pengiriman paling besar selama Ramadhan, terutama barang kebutuhan konsumsi cepat (fast moving consumer goods), produk fesyen, serta produk kesehatan.  “Yang paling dominan biasanya FMCG, fashion, dan juga produk medis seperti obat-obatan dari jaringan ritel farmasi,” katanya.

Lonjakan pengiriman juga dipengaruhi pola persiapan distribusi yang dilakukan jauh sebelum puncak permintaan. Untuk wilayah yang lebih jauh seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, pengiriman biasanya sudah dimulai sekitar 30 hari sebelum Lebaran.

Sementara distribusi ke wilayah yang relatif lebih dekat seperti Kalimantan umumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 10 hari, sedangkan ke Sumatera sekitar lima hingga enam hari melalui jalur darat. “Untuk daerah yang jauh biasanya pengiriman sudah dimulai sejak H-30 sampai H-20 agar barang bisa sampai tepat waktu,” ujarnya.

Tantangan terbesar dalam distribusi logistik selama periode Ramadhan tetap berkaitan dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan serta keterbatasan sarana angkut. Di jalur darat, perusahaan logistik kerap menghadapi keterbatasan armada karena meningkatnya permintaan pengiriman secara bersamaan. Sementara di jalur laut, industri juga menghadapi keterbatasan kontainer yang berdampak pada kenaikan tarif pengangkutan. “Khusus di jalur laut, saat ini juga terjadi kekurangan kontainer sehingga tarif jasa pengangkutan ikut naik,” katanya.

Selain itu, kesenjangan distribusi antara wilayah barat dan timur Indonesia juga masih menjadi tantangan bagi industri logistik nasional. Sebagian besar pusat produksi barang masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia sehingga distribusi menuju kawasan timur seringkali tidak diimbangi dengan arus barang balik yang memadai. “Sering kali dari timur ke barat tidak ada muatan balik yang cukup, sehingga kapal atau kendaraan kembali dalam kondisi kosong,” ujarnya.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya distribusi menjadi lebih tinggi karena biaya operasional harus tetap ditanggung meskipun muatan tidak optimal. Dalam menghadapi lonjakan permintaan, pelaku industri logistik menerapkan strategi distribusi yang lebih adaptif, termasuk penjadwalan pengiriman lebih awal serta optimalisasi sistem distribusi berbasis hub.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan efisiensi operasional sektor logistik. Menurut dia, digitalisasi telah membantu meningkatkan produktivitas serta efisiensi distribusi melalui berbagai sistem seperti pelacakan pengiriman secara real time, pengelolaan rute distribusi yang lebih efisien, hingga integrasi data logistik. “Teknologi memiliki peran sangat besar untuk meningkatkan efisiensi logistik, karena bisa mengatur pergerakan barang dan kendaraan secara lebih efektif,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui transformasi digital di sektor logistik belum merata di seluruh pelaku industri. Perusahaan besar yang memiliki kontrak jangka panjang dengan pelanggan umumnya lebih cepat mengadopsi teknologi dibandingkan pelaku usaha yang lebih kecil.

Sektor logistik juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama melalui pemanfaatan platform perdagangan elektronik. Menurut dia, pelaku UMKM perlu meningkatkan pemahaman terhadap sistem logistik agar dapat memanfaatkan berbagai peluang efisiensi biaya distribusi. “UMKM perlu memahami proses logistik, misalnya bagaimana mengonsolidasikan pengiriman atau memanfaatkan jalur distribusi yang lebih efisien,” ujarnya.

Sumber : Antara

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button