FinansialHeadline

BI Sebut Sejumlah Sektor Masih Punya Ruang Pembiayaan Besar

BISNISJAKARTA.co.id – Bank Indonesia (BI) menyebut sejumlah sektor masih memiliki ruang pembiayaan yang besar dari fasilitas kredit yang telah disetujui perbankan namun belum dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam sesi policy dialogue pada Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Jakarta, Senin, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari tingginya rasio pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) di sejumlah sektor.

“Ada beberapa sektor yang rasio undisbursed loan terhadap plafon di sektoral itu jauh di atas dibandingkan rata-ratanya. Artinya apa? Masih banyak ruang bagi bank atau bagi sektor tersebut untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan,” kata Destry.

Ia menyebut sektor yang memiliki ruang pembiayaan besar antara lain pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta transportasi dan pengangkutan.

Berdasarkan data BI, total nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan mencapai Rp2.527,46 triliun atau setara 22,59 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Secara umum, undisbursed loan merujuk pada fasilitas kredit yang telah disetujui bank namun belum dicairkan atau dimanfaatkan oleh debitur.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang peningkatan penyaluran kredit ke sektor riil. “Nah di sinilah tempatnya bagaimana PINISI ini akhirnya kita berusaha untuk mempertemukan antara sisi kebutuhan pembiayaan dari korporasi dan konsumen dengan sisi pendanaan dari perbankan,” ujarnya.

Destry menambahkan pertumbuhan kredit perbankan hingga Maret 2026 masih berada di kisaran 9,5 persen, namun kontribusinya masih didominasi oleh bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Karena itu, BI mendorong peran lebih besar dari bank swasta dan kantor cabang bank asing untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor produktif. Ia juga menilai masih terdapat kendala berupa asimetri informasi terkait kelayakan proyek yang menghambat penyaluran kredit.

Melalui PINISI, BI berupaya mempercepat intermediasi pembiayaan dengan mempertemukan kebutuhan pembiayaan dunia usaha dan kapasitas pendanaan perbankan. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan proyek, meningkatkan kelayakan pembiayaan, serta memastikan realisasi pembiayaan berjalan lebih efektif.

Sumber : Antara

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button