BisnisHeadlineInvestasi

IA-ITB Papua-Papua Barat Soroti Potensi Mineral dan Migas untuk Pembangunan Papua

IA-ITB Papua-Papua Barat membahas potensi mineral dan migas untuk pembangunan Papua, di tengah kesenjangan IPM enam provinsi pada 2025

Bisnisjakarta.co.id – Kekayaan mineral dan minyak serta gas bumi (migas) di Tanah Papua dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, optimalisasi sumber daya alam tersebut perlu diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat bertajuk “Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua”. Kegiatan ini berlangsung di JS Luwansa Hotel and Convention Center, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Ketua IA-ITB Papua-Papua Barat, Agustin Peranginangin, dalam sambutannya menekankan pentingnya forum tersebut sebagai ruang strategis untuk membahas optimalisasi potensi sumber daya alam, khususnya mineral dan migas, guna mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.

Papua memiliki kekayaan sumber daya alam yang potensial, mulai dari emas, tembaga, dan nikel hingga minyak dan gas bumi. Apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan, potensi tersebut dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, pengembangan industri, serta penciptaan lapangan kerja.

Melalui seminar nasional ini, IA-ITB Papua-Papua Barat juga mendorong dialog antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan. Dialog tersebut diharapkan dapat menghasilkan pemikiran dan strategi pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Agustin berharap seminar tersebut turut berkontribusi dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan potensi sumber daya alam di Indonesia, khususnya Papua.

“Hasil dari seminar ini dapat menumbuhkan pencerdasan kehidupan bangsa, khususnya untuk masyarakat di tanah Papua dan masyarakat seluruh Indonesia pada umumnya”harap Agustin.

Menteri Brian Yuliarto Dorong Kolaborasi Kampus

Seminar nasional tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Dalam sambutannya, ia mendorong pengembangan pendidikan tinggi di Papua melalui kolaborasi antara perguruan tinggi di wilayah tersebut dan kampus-kampus di Pulau Jawa.

Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat kapasitas perguruan tinggi di Papua, termasuk dalam penyediaan fasilitas laboratorium dan pengembangan kemampuan penelitian.

“Kami juga dari Kementerian Pendidikan Tinggi Saintek mendorong berbagai kampus-kampus (Papua) berkolaborasi dengan kampus yang ada di Jawa, silahkan kami akan memfasilitasi kita bisa membangun lab lab di Papua sehingga berbagai pengelolaan berbagai pengujian tidak perlu jauh-jauh dikirim ke Jawa” ungkap Brian.

Selain membahas pengembangan pendidikan, seminar ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pertambangan dan energi. Perwakilan industri pertambangan, pengelola sektor migas, serta organisasi yang bergerak dalam pengembangan sumber daya alam tercantum dalam agenda kegiatan.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai peluang investasi, pengembangan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat Papua.

IPM Enam Provinsi Papua Masih Menunjukkan Kesenjangan

Besarnya potensi sumber daya alam Papua juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana kekayaan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat capaian pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator ini mencakup dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Dalam sesi diskusi, moderator Yusak Reba, praktisi hukum sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, Papua, mengangkat pertanyaan mengenai dampak potensi mineral dan migas terhadap capaian IPM di Tanah Papua.

Pembahasan mengenai pembangunan Papua menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan capaian IPM di enam provinsi yang menunjukkan perbedaan cukup besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Provinsi Papua mencatat IPM sebesar 74,69. Papua Barat Daya berada di angka 70,55, disusul Papua Selatan sebesar 69,54 dan Papua Barat sebesar 68,48.

Sementara itu, IPM Papua Tengah tercatat sebesar 60,64. Adapun Papua Pegunungan memiliki IPM sebesar 54,91, terendah di antara enam provinsi di Tanah Papua.

Berikut rincian IPM enam provinsi di Tanah Papua pada 2025:

  • Papua: 74,69
  • Papua Barat Daya: 70,55
  • Papua Selatan: 69,54
  • Papua Barat: 68,48
  • Papua Tengah: 60,64
  • Papua Pegunungan: 54,91

Sebagai perbandingan, IPM Indonesia pada 2025 mencapai 75,90.

Data tersebut memperlihatkan bahwa capaian pembangunan manusia di seluruh provinsi di Tanah Papua masih berada di bawah angka nasional. Kesenjangan antardaerah juga menunjukkan bahwa peningkatan kualitas hidup masyarakat masih menjadi pekerjaan penting dalam agenda pembangunan Papua.

Optimalisasi Sumber Daya Alam Perlu Diiringi Peningkatan Kualitas SDM

Perbedaan capaian IPM di enam provinsi tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam pembahasan mengenai pemanfaatan potensi mineral dan migas di Tanah Papua.

Kekayaan sumber daya alam tidak hanya perlu dilihat dari besarnya potensi produksi atau nilai ekonominya, tetapi juga dari sejauh mana pengelolaannya mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Dalam konteks tersebut, pengembangan pendidikan tinggi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi aspek penting agar masyarakat Papua memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam pengembangan industri berbasis sumber daya alam.

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan masyarakat juga diharapkan dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, teknologi, serta peluang ekonomi.

Melalui seminar nasional ini, IA-ITB Papua-Papua Barat mendorong agar potensi mineral dan migas dapat menjadi salah satu penggerak pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan pengelolaan yang optimal dan berkelanjutan, kekayaan alam Papua diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pemerataan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di seluruh Tanah Papua.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button