EkobisHeadline

Teknologi 3D Printing Dorong Efisiensi Industri Nasional di ALLPack Indonesia 2026

Teknologi 3D printing dan 3D scanning dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri nasional.

BISNISJAKARTA.co.id – Teknologi 3D printing dan 3D scanning dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri nasional. Potensi tersebut diperkenalkan melalui kolaborasi Krista Exhibitions dan Asosiasi PRINTRIDI dalam pameran ALLPack Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 20–23 Oktober 2026.

Pameran berskala internasional ini menghadirkan lebih dari 1.200 perusahaan peserta dan menargetkan hingga 90.000 pengunjung. Kolaborasi tersebut menjadi langkah untuk memperluas penerapan teknologi 3D dalam industri kemasan (packaging) dan manufaktur di Indonesia.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan perkembangan teknologi 3D printing membuka peluang baru bagi berbagai sektor industri. Teknologi ini tidak lagi terbatas pada penggunaan material plastik, tetapi telah berkembang hingga mampu mengolah material logam.

“Teknologi 3D printing kini telah berkembang sangat pesat dan masuk ke multisektor. Jika dulu orang mengira 3D printing terbatas pada bahan plastik, kini teknologi ini sudah mampu mengolah material metal. Hal ini mengubah konsep lama produksi menjadi jauh lebih efisien dan fleksibel,” ujar Daud saat pembukaan pameran.

Ketua Umum Asosiasi PRINTRIDI sekaligus Direktur Evolusi 3D, Eric Rudolf Thedjasurya, mengatakan ALLPack Indonesia 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan pelaku teknologi 3D printing dengan berbagai sektor industri di Indonesia.

Menurut Eric, 3D printer dan 3D scanner yang sebelumnya identik dengan teknologi rumit dan pembuatan prototipe kini semakin terjangkau serta mudah diterapkan. Namun, pemanfaatannya masih perlu diperluas melalui edukasi dan pengenalan kepada calon pengguna industri.

“Melalui ALLPack 2026, Asosiasi PRINTRIDI hadir untuk mengoneksikan para penerap teknologi 3D dengan para pemangku kepentingan yang tepat,” jelasnya.

PRINTRIDI mendorong peningkatan penggunaan teknologi 3D printing, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri rumahan, hingga manufaktur skala besar. Dalam pameran tersebut, asosiasi menghadirkan demonstrasi penerapan teknologi 3D untuk berbagai kebutuhan, seperti manufaktur, suku cadang, cetakan (mold), medis, mainan, dan suvenir.

Upaya ini sejalan dengan misi PRINTRIDI, yakni Connect, Synergy, Inspire, yang berfokus pada penguatan konektivitas antar-pemangku kepentingan, sinergi ekosistem produksi mandiri, serta peningkatan efisiensi industri nasional.

Kolaborasi tersebut juga direncanakan berlanjut dalam pameran Interfood pada 4–7 November 2026 untuk mendukung kebutuhan industri kuliner dan produk hampers.

3D Printing Jadi Strategi Meningkatkan Daya Saing Bisnis

Techpreneur sekaligus Konsultan Strategi Bisnis, Paulus Sulastri, menilai teknologi 3D printing dan 3D scanning dapat menjadi bagian penting dari strategi bisnis, khususnya di sektor manufaktur.

Teknologi tersebut memungkinkan proses pengembangan produk, pembuatan prototipe, dan digitalisasi komponen dilakukan lebih cepat, efisien, serta ekonomis.

“Pemanfaatan teknologi 3D bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, dan mempercepat inovasi sehingga perusahaan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” kata Paulus.

Penerapan teknologi ini diharapkan membantu perusahaan mempercepat proses produksi sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Dengan demikian, pelaku industri dapat meningkatkan efisiensi operasional dan merespons kebutuhan pasar secara lebih fleksibel.

Kemenperin Dorong Adopsi 3D Printing oleh IKM dan Startup

Dukungan terhadap pengembangan teknologi 3D printing juga disampaikan Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Emma Natalia.

Emma menilai pameran ALLPack Indonesia 2026 yang dilengkapi sesi diskusi edukatif menjadi sarana untuk memperkenalkan teknologi 3D printing kepada lebih banyak pelaku industri.

Kemenperin, lanjutnya, terus mendorong pemanfaatan teknologi tersebut untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM), sekaligus memperkuat hubungan antara startup teknologi dan industri pengguna.

Melalui program Startup for Industry (SFI), Kemenperin memfasilitasi akselerasi startup, pengujian solusi teknologi, serta penghubungan startup dengan IKM dan perusahaan yang membutuhkan inovasi.

Teknologi 3D printing berpotensi mendukung produksi suku cadang dan alat bantu produksi. Pemanfaatan teknologi ini juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor serta mendorong startup dan IKM masuk ke dalam rantai pasok industri nasional.

Meski demikian, pengembangan ekosistem 3D printing membutuhkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), penerapan standar mutu, dan penguatan kepercayaan industri. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, akademisi, startup, dan pelaku industri dinilai penting untuk memperluas penerapannya.

Emma mengajak pelaku startup dan teknologi 3D printing bergabung dalam ekosistem SFI melalui situs startupforindustry.id agar dapat terhubung dengan kebutuhan IKM dan industri pengguna.

Selain itu, pelaku usaha diundang berpartisipasi dalam INDO Startup Expo & Forum 2026 yang direncanakan berlangsung pada 8–10 April 2027. Kegiatan ini akan mempertemukan startup, investor, inkubator, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri.

Sejumlah agenda yang direncanakan meliputi Temu Bisnis, Demo Day, Investment Summit, dan Indonesia Connext Hub. Melalui kegiatan tersebut, startup teknologi 3D printing diharapkan dapat memperluas akses pasar, menjajaki kemitraan strategis, serta memperkenalkan inovasi kepada calon pengguna dan mitra industri.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button