FinansialHeadline

OJK Percepat Penguatan Pasar Obligasi Berkelanjutan dan Mata Uang Lokal

BISNISJAKARTA.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB) mempercepat penguatan pasar obligasi berkelanjutan dan obligasi berdenominasi mata uang lokal sebagai strategi memperkuat ketahanan ekonomi kawasan ASEAN+3 di tengah ketidakpastian global.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam pembukaan rangkaian 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) Meeting and Other Events. Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK, Retno Ici mengatakan, pengembangan pasar obligasi berkelanjutan menjadi salah satu pilar utama untuk menciptakan pasar modal yang inklusif, tangguh, dan berorientasi masa depan.

“Komitmen ini mencakup penerapan prinsip keuangan berkelanjutan sekaligus penguatan pasar obligasi agar mampu merespons dinamika ekonomi global,” ujar Retno dalam informasi resminya di Jakarta.

Retno menjelaskan, OJK telah memperkuat landasan regulasi melalui POJK Nomor 18 Tahun 2023 tentang penerbitan efek bersifat utang dan sukuk berlandaskan keberlanjutan. Aturan ini memperluas cakupan obligasi berkelanjutan tidak hanya pada aspek lingkungan (green), tetapi juga sosial dan keberlanjutan lainnya.

Selain itu, Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) menjadi instrumen penting dalam menyelaraskan proyek nasional dengan standar keberlanjutan internasional.

Hingga akhir Desember 2025, OJK mencatat outstanding obligasi dan sukuk korporasi berkelanjutan mencapai Rp54,94 triliun atau setara USD 3,28 miliar, mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap instrumen pembiayaan berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan Local Currency Bond Market dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan eksternal dan risiko nilai tukar, sekaligus memperluas sumber pendanaan bagi proyek infrastruktur dan sosial jangka panjang.

Sementara itu, Direktur Strategi Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Mada Dahana, menyebut keuangan berkelanjutan sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan nasional menuju pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan visi Indonesia Emas 2045.

Berdasarkan Sustainable Development Report 2025, Indonesia mencatat skor 70,2 di atas rata-rata global dan telah mencapai 61,4 persen dari indikator SDGs, yang dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor swasta untuk berinvestasi pada agenda pembangunan nasional.

Selain ABMF, forum ini juga dirangkai dengan Cross-Border Settlement Infrastructure Forum (CSIF) dan Digital Bond Market Forum (DBMF) yang menyoroti penguatan transaksi lintas batas dan pengembangan pasar obligasi digital di kawasan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button