Bisnisjakarta.co.id – Mencegah praktik kecurangan atau fraud menjadi salah satu aspek penting dalam membangun tata kelola industri perhotelan yang sehat dan profesional. Untuk itu, diperlukan sistem pengawasan yang tidak hanya mampu membatasi peluang penyimpangan, tetapi juga terus diperbarui mengikuti perkembangan risiko operasional.
Praktisi perhotelan dan properti sekaligus Co-Founder Escotel Indonesia, Gde Brawiswara Putra, menjelaskan bahwa pengelolaan hotel yang aman dari praktik kecurangan tidak cukup hanya mengandalkan sistem yang dianggap sudah baik. Hal terpenting adalah memastikan mekanisme pengawasan dapat terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan berbagai potensi celah.
Melalui pernyataan di akun Instagram pribadinya, Gde mengungkapkan bahwa sistem pengawasan yang diterapkan Escotel memiliki dua tujuan utama. Pertama, mempersempit kesempatan karyawan untuk melakukan kecurangan. Kedua, memastikan setiap tindakan fraud yang terjadi dapat diketahui dan segera ditindaklanjuti.
Menurut Gde, tidak ada sistem pengawasan yang benar-benar sempurna atau sepenuhnya terbebas dari kemungkinan manipulasi. Oleh karena itu, perusahaan tidak boleh merasa puas dan menganggap sistem yang telah diterapkan saat ini sebagai sistem terbaik yang tidak lagi membutuhkan pembenahan.
“Yang kami lakukan adalah kami membuat sistem yang tugasnya mempersulit orang untuk korupsi, orang untuk curang,” ujar Gde.
Ia menjelaskan, langkah pencegahan korupsi di lingkungan perhotelan perlu diawali dengan menciptakan mekanisme yang membuat seseorang harus menghadapi lebih banyak hambatan ketika mencoba melakukan manipulasi.
Dengan pendekatan tersebut, peluang terjadinya penyalahgunaan dapat ditekan. Di sisi lain, sistem juga perlu dirancang agar tindakan kecurangan yang berhasil dilakukan tetap memiliki kemungkinan besar untuk terdeteksi.
Gde mengingatkan bahwa menganggap sistem pengawasan sudah sempurna justru dapat menjadi kelemahan bagi perusahaan. Sikap terlalu percaya diri terhadap sistem yang dimiliki berpotensi menurunkan kewaspadaan terhadap munculnya celah-celah baru.
“Jadi mindset kita bukan membuat sistem terbaik. Tapi membuat sistem yang akan selalu bisa bertumbuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut fungsi kedua dari sistem pengawasan Escotel adalah memastikan setiap praktik fraud dapat terungkap dan menjadi dasar untuk melakukan evaluasi.
Gde menyadari bahwa potensi kelemahan dalam sistem pengawasan akan selalu ada. Karena itu, perusahaan harus memiliki kesiapan untuk mengidentifikasi kekurangan dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Setiap kejadian kecurangan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat mekanisme pengawasan. Dengan segera memperbaiki kelemahan yang ditemukan, perusahaan dapat mengurangi risiko terulangnya pola penyalahgunaan yang sama.
Selain evaluasi internal, Gde juga menekankan pentingnya berbagi pengalaman antarproperti hotel. Escotel yang saat ini mengelola lebih dari 30 hotel memiliki keuntungan dalam mengumpulkan berbagai pengalaman operasional dari setiap properti yang dikelola.
Permasalahan maupun temuan di satu hotel dapat menjadi bahan pembelajaran bagi hotel lainnya. Dengan demikian, perusahaan bisa mengantisipasi potensi masalah tanpa harus menunggu kejadian serupa muncul di seluruh properti.
“Karena kita saat ini punya lebih dari 30 hotel, kita mengelola lebih dari 30 hotel, maka setiap bulan pengalaman kami bertambah 30 bulan,” jelasnya.***



