HeadlineInvestasi

Kelola 100+ Properti, Gde Brawiswara Ungkap Strategi Bikin Properti Bayar Cicilannya Sendiri

Bisnisjakarta.co.id – Membeli properti untuk investasi masih kerap dipahami sebatas membeli aset, kemudian menunggu nilainya meningkat sebelum dijual kembali. Namun, pola tersebut dinilai tidak selalu efektif, terutama ketika pasar properti menghadapi kondisi yang penuh tantangan.

Gde Brawiswara Putra, praktisi yang memiliki keahlian spesifik di bidang manajemen properti untuk sewa harian, menilai investor perlu mengubah cara pandang terhadap aset properti.

Menurutnya, properti seharusnya tidak hanya disimpan sebagai aset, tetapi juga diupayakan agar mampu menghasilkan pendapatan secara rutin.

“Fenomenanya di lapangan banyak orang beli properti untuk investasi, tapi mindset-nya adalah properti dijemur, harga pasti naik. Padahal in this economy, banyak properti dijual murah saja enggak laku,” ujar Gde.

Gde sendiri menjalankan bisnis di bidang manajemen hotel dan villa. Dari pengalamannya mengelola lebih dari 100 properti, ia melihat terdapat peluang untuk mengoptimalkan aset melalui model sewa harian.

Menurutnya, properti yang dikelola dengan tepat dapat menghasilkan pendapatan harian sehingga mampu membiayai dirinya sendiri, termasuk membantu menutup cicilan.

“Tapi saya membuat properti jadi income harian, dia jadi bisa bayar dirinya dan cicilannya sendiri,” katanya.

Menurut Gde, salah satu persoalan yang sering ditemui pada investor properti adalah kemampuan mereka berhenti pada tahap membeli aset. Setelah properti dimiliki, tidak semua pemilik memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan aset tersebut.

“Kebanyakan orang cuma bisa beli, tapi setelah beli tidak punya skill untuk bikin asetnya bekerja,” ujarnya.

Akibatnya, pemilik tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu harga properti meningkat dan berharap aset tersebut dapat dijual dengan harga lebih tinggi.

Sementara itu, jika disewakan secara konvensional, potensi hasil yang diperoleh juga dinilai belum tentu maksimal.

Gde mengatakan, properti yang disewakan tahunan dapat menghasilkan imbal hasil yang kurang lebih setara dengan bunga tabungan. Adapun model sewa bulanan seperti kost menurutnya dapat berada di kisaran bunga deposito.

“Kalau harian, yield-nya bisa melebihi cicilan KPR,” kata Gde.

Karena itu, menurut dia, investor perlu melihat kemampuan sebuah properti dalam menghasilkan income atau cash flow, bukan hanya mengandalkan potensi capital gain.

Dalam memilih properti yang akan dikembangkan sebagai aset sewa harian, Gde tidak hanya mengandalkan intuisi. Ia mengaku sudah memiliki checklist tertentu.

Bahkan ketika datang ke pameran properti atau expo, ia akan mencari aset yang memenuhi kriteria tersebut.

Salah satu kriterianya adalah properti dengan tiga kamar tidur dan private pool. Namun, ketiadaan kolam renang tidak serta-merta membuat sebuah properti tidak menarik.

Menurut Gde, properti tanpa private pool tetap dapat dipertimbangkan selama memiliki halaman yang memungkinkan untuk digunakan sebagai area pembangunan kolam.

“Tiga kamar tidur, ada private pool. Kalau belum ada, yang penting punya halaman untuk space kolam,” ujarnya.

Kriteria tersebut menjadi salah satu cara Gde melihat potensi sebuah properti sebelum menjadikannya aset produktif.

Dalam investasi properti, lokasi sering dianggap sebagai salah satu faktor paling penting.

Namun, pengalaman Gde mengelola lebih dari 100 properti membuatnya memiliki pandangan bahwa sebuah properti tidak selalu harus berada di lokasi yang dianggap premium untuk dapat menghasilkan pendapatan.

“Lokasi enggak terlalu pengaruh, kita sudah kelola 100+ properti, lokasinya aneh-aneh tetap laku,” katanya.

Pengalaman tersebut membuat Gde lebih menekankan kemampuan untuk melihat potensi aset dan bagaimana aset tersebut dikelola.

Artinya, properti di lokasi yang tidak dianggap sebagai kawasan utama sekalipun masih memiliki peluang untuk menarik pasar apabila karakteristik properti dan pengelolaannya sesuai dengan kebutuhan penyewa.

Selain kondisi dan potensi properti, Gde juga menyoroti aspek lingkungan sekitar. Hal ini menjadi penting terutama ketika properti akan digunakan untuk model sewa harian.

Menurutnya, investor perlu memastikan aktivitas penyewaan dapat diterima oleh lingkungan sekitar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah mendapatkan izin dari tetangga sebelum properti mulai beroperasi.

“Yang penting dapat izin dari tetangga supaya tidak digangguin ketika sewa sudah berjalan,” kata Gde.

Menurut Gde, hal tersebut merupakan bagian dari kesiapan operasional yang tidak boleh diabaikan.

Sebab, bisnis sewa harian tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mendapatkan tamu dan pendapatan, tetapi juga bagaimana memastikan kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dalam jangka panjang.

Pengalaman Gde Brawiswara dalam mengelola hotel, villa, dan lebih dari 100 properti menunjukkan bahwa investasi properti tidak berhenti ketika transaksi pembelian selesai.

Kemampuan mengelola aset menjadi faktor penting agar properti dapat memberikan manfaat ekonomi selama dimiliki.

Alih-alih hanya menunggu harga naik, investor dapat mempertimbangkan bagaimana properti tersebut menghasilkan pendapatan rutin, sekaligus memperhitungkan biaya operasional dan kewajiban seperti cicilan KPR.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button