HeadlineInvestasi

Bybit Indonesia Web3 on Campus Hadir di UI, Bekali Mahasiswa Mengenal Peluang Karier dan Industri Aset Digital

Acara ini diadakan bekerja sama dengan IDNFT sebagai mitra penyelenggara

Bisnisjakarta.co.id – Program edukasi Web3 On Campus kembali hadir untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi blockchain, aset digital, dan peluang karier di industri Web3. Kegiatan yang berlangsung di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (UI) ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang akademik.

Web3 On Campus merupakan program kolaboratif yang digagas oleh IDNFT bersama berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Program ini bertujuan mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penyediaan akses edukasi, sosialisasi, dan pengembangan wawasan terkait blockchain, NFT, kripto, Web3, hingga metaverse.

Sejak pertama kali diselenggarakan, Web3 On Campus telah menjangkau lebih dari 8.000 mahasiswa di lebih dari 25 kampus besar di Indonesia. Program ini juga telah menghadirkan puluhan pembicara dari berbagai perusahaan, komunitas, dan pelaku industri Web3 melalui roadshow di lebih dari 10 kota.

Dalam kegiatan di Universitas Indonesia, peserta mendapatkan berbagai materi yang dirancang untuk memperkenalkan ekosistem aset digital sekaligus memberikan gambaran mengenai peluang karier di masa depan.

Kegiatan di kampus UI kali ini mengangkat tema “Menggali Peluang di Industri Web3: Perspektif Builder, Developer, dan Founder”. Diskusi ini membahas berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan generasi muda Indonesia, mulai dari pengembangan aplikasi berbasis blockchain, inovasi startup Web3, hingga kebutuhan talenta di sektor teknologi yang terus berkembang.

Pada sesi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan industri dan akademisi, di antaranya CEO Bybit Indonesia Lawrence Samantha dan Co-Founder Pelita Bangsa Academy, Yevonnael Andrew.

Menurut Lawrence salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan industri aset digital di Indonesia masih berkaitan dengan literasi masyarakat. Banyak orang yang belum memahami secara utuh apa itu kripto dan bagaimana perkembangan teknologi tersebut telah berevolusi dalam beberapa tahun terakhir.

“Tantangan terbesar saat ini adalah literasi. Masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami apa itu kripto. Padahal industri ini berkembang sangat cepat. Jika 10 tahun lalu pembahasan hanya seputar Bitcoin kemudian Ethereum, kini sudah ada berbagai jenis aset digital dan inovasi baru yang mungkin belum banyak dipahami oleh masyarakat.” ungkap Lawrence.

CEO Bybit Indonesia, Lawrence Samantha (Bisnis Jakarta/ Novi)

Ia menjelaskan bahwa ekosistem kripto saat ini tidak lagi terbatas pada mata uang digital semata. Berbagai inovasi telah menghadirkan aset digital yang memiliki keterkaitan dengan aset riil di dunia nyata.

“Saat ini berkembang konsep RWA (Real World Asset), di mana sebuah token kripto dapat memiliki aset pendukung seperti saham, emas, bahkan mata uang dolar. Banyak orang masih melihat kripto dari perspektif lama, padahal ruang lingkupnya sudah jauh lebih luas.” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menilai perkembangan inovasi teknologi sering kali berjalan lebih cepat dibandingkan proses penyusunan regulasi. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang baik antara pelaku industri dan regulator agar inovasi dapat tumbuh secara sehat dan tetap memberikan perlindungan kepada masyarakat.

“Regulator juga terus berupaya memahami perkembangan industri ini. Dalam banyak kasus, inovasi memang selalu berjalan lebih dulu dibandingkan regulasi. Karena itu kami berharap regulator, termasuk OJK, dapat terus mendukung lahirnya inovasi-inovasi baru di sektor aset digital.”

 

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Bybit Indonesia saat ini aktif menggelar berbagai kegiatan edukasi di sejumlah daerah melalui program roadshow yang melibatkan komunitas, kampus, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saat ini kami fokus melakukan roadshow edukasi. Setelah hadir di Solo, Bandung, Jakarta, dan Depok, kami juga akan melanjutkan kegiatan serupa di Bali, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan komunitas, universitas, maupun perusahaan yang ingin meningkatkan pemahaman mengenai kripto. Tujuan kami sederhana, yaitu memperkenalkan dan meningkatkan literasi kripto kepada lebih banyak masyarakat Indonesia.” tutup Lawrence.

Dalam sesi diskusi interaktif, mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai peluang karier di bidang blockchain, keterampilan yang perlu dipersiapkan untuk menjadi developer Web3, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan aplikasi, hingga prospek sektor-sektor baru seperti DeFi, Real World Asset (RWA), DePIN, AI Agent, dan Decentralized Identity.

Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan teknologi terkini, tetapi juga mampu melihat berbagai peluang inovasi dan karier yang muncul dari transformasi digital global.

Melalui rangkaian program edukasi yang terus diperluas ke berbagai kampus, Web3 On Campus berkomitmen untuk mendorong peningkatan literasi digital serta mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu berpartisipasi dan berkontribusi dalam ekosistem teknologi masa depan.

Sementara itu Co-Founder Pelita Bangsa Academy, Yevonnael Andrew berharap peran serta pemerintah untuk

“Kalau menurut saya kita butuh dukungan dari orang yang punya capabillty untuk reach out mass yang lebih besar, contohnya pemerintah. Jadi mungkin pemerintah bisa bikin sejenis program baik offline atau online untuk ngajarin kripto ke masyarakat luas” kata Yevonnael.

Co-Founder Pelita Bangsa Academy, Yevonnael Andrew (Bisnis Jakarta/Novi)
Co-Founder Pelita Bangsa Academy, Yevonnael Andrew (Bisnis Jakarta/Novi)

Yevonnael melanjutkan bahwa Indonesia saat ini hanya fokus sebagai user padahal peluang sebagai builder masih sangat luas.

“Tantanganya Indonesia itu masih fokus jadi user, padahal sebagai user kita bisa lihat banyak kekurangan, banyak yang bisa diimprove. Kita berharap dengan web3 goes to campus ini, hopefully mahasiswa ini bisa jadi builder bukan cuma jadi user.” ungkapnya.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button