Bisnisjakarta.co.id – Bina Bangsa School (BBS) terus memperkuat komitmennya dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan pelajar melalui penyelenggaraan Young Entrepreneur Programme (YEP) 2026. Program yang digagas oleh jenjang Secondary & Junior College ini akan berlangsung pada 28–30 April 2026 dengan konsep experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung.
Mengusung kutipan “It’s Not About Ideas, It’s About Making Ideas Happen” dari Scott Belsky, kegiatan ini menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari ide yang baik, tetapi juga dari keberanian untuk mengeksekusinya. Melalui YEP, BBS Bandung ingin menanamkan kepada para siswa pentingnya berpikir kreatif, bertindak solutif, serta mampu mewujudkan gagasan menjadi sebuah inovasi yang memiliki nilai.
Principal BBS Bandung, Frederick Lopez Laurente, menilai program tersebut sebagai salah satu langkah strategis sekolah dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif kepada siswa, khususnya yang memiliki ketertarikan pada bidang bisnis, ekonomi, dan akuntansi.
“Program Kewirausahaan Muda BBS menandai langkah maju bagi seluruh komunitas BBS, yang dirancang khusus untuk mahasiswa jurusan bisnis, ekonomi, dan akuntansi. Mengapa kami melakukan ini? Program ini dirancang terutama untuk memberi mereka kesempatan belajar dengan menerapkan praktik. Selain itu, untuk memahami bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang bisnis, bukan hanya tentang keuntungan,” tutur Frederick Lopez Laurente.
“Kami mencoba menanamkan pemahaman dan praktik mereka bahwa menjadi seorang wirausahawan membutuhkan lebih dari sekadar keuntungan dan bisnis. Dibutuhkan pengambilan keputusan yang baik, keterampilan kepemimpinan yang baik, manajemen sumber daya yang baik, memberikan dampak positif di masyarakat, dan yang lebih penting, memiliki hati untuk berbagi keuntungan bisnis kepada anggota masyarakat yang kurang beruntung,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya, Young Entrepreneur Programme 2026 menghadirkan sejumlah sesi utama seperti Business Talk, Business Immersion, The Business Den, dan Commercial Break. Seluruh rangkaian tersebut disusun untuk memperkenalkan siswa pada proses membangun usaha secara menyeluruh, mulai dari pencarian ide, pemetaan peluang, strategi penjualan, hingga kemampuan menyampaikan konsep bisnis secara meyakinkan.
Pada sesi Business Talk, siswa akan berinteraksi dengan para praktisi bisnis guna memperoleh wawasan langsung dari pengalaman lapangan. Kemudian melalui Business Immersion, peserta diajak memahami suasana serta ritme kerja di dunia usaha secara nyata. Sementara pada The Business Den, siswa diberi ruang untuk mempresentasikan ide bisnis dan menerima penilaian dari mentor profesional.
Menurut Hendro Widjaja selaku BBS Academic Board, program ini menjadi jawaban atas kebutuhan pendidikan masa kini yang menuntut siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif.
“Kami sadar bahwa dengan adanya program ini sekolah tidak akan cukup secara akademik karena di dunia ini bergerak dengan cepat sehingga anak – anak yang bisa problem solving,creative thinking,critical thinking dan mereka bisa menjawab masalah- masalah yang ada didunia ini,jadi sebagai adanya indisiasi di sekolah kami mengumpulkan 6 kampus bina bangsa mereka peduli pentingnya bisnis,berkreasi,dan kontribusi pada dunia ini terutama di bandung mereka bisa menjual produk.melayani dan sebagainya” ujar Hendro Widjaja.
Selain itu, pada sesi Commercial Break, siswa akan dibekali pemahaman mengenai pentingnya strategi pemasaran, branding, serta komunikasi produk yang efektif. Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan kemampuan kolaborasi tim sekaligus membaca kebutuhan pasar secara lebih tajam.
Riquel, siswa dari Sekolah Bina Bangsa Kebun Jeruk, mengaku proses menemukan produk yang benar-benar baru menjadi tantangan terbesar selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Masalah terbesar kami adalah menemukan produk karena harus unik dan tidak boleh berupa produk yang sudah ada. Hal lainnya adalah karena kita sudah memiliki masalah ini, kita perlu menemukan solusinya, yang juga sulit dan itu adalah salah satu masalah terbesar kita karena butuh waktu tiga hari untuk menemukan produk dan mengiklankannya.” tutur Riquel.
Tidak hanya berfokus pada ruang kelas dan presentasi, peserta juga akan diajak belajar dari ekosistem bisnis kota melalui kunjungan ke kawasan Braga. Kawasan heritage tersebut dipilih karena dinilai merepresentasikan perpaduan antara nilai sejarah, budaya, dan pertumbuhan bisnis yang berkembang di Kota Bandung.
“BBS hari ini telah menampilkan ide – ide anak – anak berbagai lomba,dan nantinnya siswa dan siswi BBS akan mengujungi ke braga sebagai heritage dimana distu akan belajar sisi bisnis secara utuh bukan dari sisi ide mereka sendiri tapi bisa menlihat bagimana bisa diimplementasikan disebuah kota baik dengan pertumbuhan akar budaya yang sudah lama,sehingga memperkenalkan perusahaan – perusahaan bandung yang telah sukses” tutur Ms Hannie Verita selaku Head of Committee BBS YEP 2026.
Young Entrepreneur Programme 2026 diikuti oleh siswa Bina Bangsa School dari enam kampus, yakni Bandung, Kebon Jeruk, Malang, Pantai Indah Kapuk, dan Semarang. Melalui program ini, BBS Bandung berharap mampu melahirkan generasi entrepreneur muda yang tidak hanya kaya ide, tetapi juga memiliki kesiapan mental, kemampuan manajerial, dan kepedulian sosial untuk menghadapi tantangan masa depan.



