
BISNISJAKARTA.co.id – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta Kamis, bergerak melemah 65 poin atau 0,39 persen menjadi Rp16.842 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.777 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar atas arah kebijakan moneter AS.
“Tekanan masih datang dari faktor eksternal, seiring menguatnya dolar AS di pasar global di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati menanti arah kebijakan moneter Amerika Serikat,” katanya di Jakarta, Kamis (5/2).
Taufan menerangkan, ekspektasi suku bunga The Fed yang masih relatif tinggi membuat aset berbasis dolar tetap menarik, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Melihat sentimen domestik, sentimen pasar berasal dari rilis pertumbuhan dan stabilitas makro.
Badan Pusat Statistik (BPS) baru melaporkan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen (year-on-year/yoy) sepanjang 2025 dengan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp13.580,5 triliun, naik dari Rp12.920,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Kendati rupiah mengalami pelemahan, lanjutnya, kehadiran Bank Indonesia (BI) menjaga nilai tukar tak terlalu merosot. “Kehadiran Bank Indonesia di pasar valas serta fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga berpotensi menahan pelemahan agar tetap terbatas,” ungkap Taufan.
Sementara itu, pelemahan rupiah diawal pada pembukaan perdagangan kemarin sebesar 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.805 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.777 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan, rupiah melemah dipengaruhi data ekonomi AS yang kuat.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.770-Rp16.820 per dolar AS, dipengaruhi oleh global penguatan index dollar sejalan dengan data ekonomi AS yang kuat,” katanya.
Mengutip Anadolu, data ADP tentang jumlah tenaga kerja nonpertanian swasta meningkat 22 ribu pada Januari 2026, walaupun di bawah ekspektasi pasar sebesar 46 ribu. Sebelumnya, pada 2025, pemberi kerja hanya menambah 398 ribu pekerjaan, menurun dari 771 ribu pada tahun 2024.
Melihat sentimen domestik, pelaku pasar disebut masih menunggu data ekonomi Indonesia. “Pelaku pasar masih menunggu data pertumbuhan ekonomi yang akan diumumkan BPS (Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini,” ujar Rully.
Sumber : Antara


