HeadlineTeknologi

BYBIT Indonesia dan UIN Bandung Kenalkan Potensi Web3 untuk Masa Depan Ekonomi Syariah

Bisnisjakarta.co.id – Transformasi dunia digital terus berkembang, dari media sosial dan e-commerce hingga kecerdasan buatan (AI).

Kini, Web3 hadir menawarkan konsep baru dalam membangun ekosistem internet yang lebih terdesentralisasi melalui teknologi blockchain.

Dalam ekosistem Web3, pengguna tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga memiliki peluang untuk menciptakan produk, memiliki aset digital, dan berkontribusi dalam pengembangan platform.

Perkembangan ini membuka peluang baru, terutama bagi generasi muda yang memiliki kemampuan di bidang teknologi.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Web3 on Campus yang digelar BYBIT Indonesia bersama Program Studi Teknik Informatika Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.

Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung, Selasa (11/8/2026), dengan menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang industri Web3.

Ada Ronald Yusuf Wijaya, Shariah Expansion Expert Bybit Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengawas AFSI, Imam Abulaisi, Builder Relations of Dev Web3 Bandung dan Fatih Maulana dari SCC UIN Bandung.

Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah “Teknologi Web3 dan Keuangan Syariah: Peluang, Tantangan, dan Masa Depan.”

Pembahasan tersebut menjadi relevan karena perkembangan Web3 dan aset digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mulai bersinggungan dengan sektor keuangan.

Kondisi ini sekaligus memunculkan kebutuhan terhadap ekosistem digital yang dapat berjalan selaras dengan prinsip-prinsip syariah.

Perkembangan Web3 dan Keuangan Syariah

Perkembangan Web3 membuka peluang baru bagi sektor keuangan, termasuk dalam pengembangan layanan berbasis syariah.

Teknologi blockchain sebagai salah satu fondasi Web3 dinilai mampu mendukung sistem transaksi yang lebih transparan dan mudah ditelusuri.

Dalam keuangan syariah, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun layanan yang mengedepankan transparansi dan keadilan, sekaligus tetap mengikuti prinsip-prinsip syariah.

Salah satu sektor yang berpotensi berkembang adalah fintech lending atau pinjaman online (pinjol).

Kemudahan akses pembiayaan melalui teknologi digital memang memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi masih dihadapkan pada persoalan literasi keuangan, biaya pembiayaan, keamanan data, serta maraknya pinjaman ilegal.

Web3 dapat menawarkan pendekatan baru melalui pencatatan transaksi menggunakan blockchain.

Teknologi ini berpotensi meningkatkan transparansi dalam proses pembiayaan, sementara prinsip keuangan syariah dapat menjadi acuan dalam menentukan skema transaksi yang sesuai.

Meski demikian, penerapan Web3 pada pembiayaan syariah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Regulasi, pengawasan, serta literasi masyarakat tetap diperlukan untuk memastikan layanan berjalan aman dan bertanggung jawab.

Karena itu, sinergi antara teknologi Web3, prinsip keuangan syariah, regulator, pelaku industri, dan perguruan tinggi menjadi penting agar inovasi finansial tidak hanya menawarkan kemudahan akses, tetapi juga mampu memberikan perlindungan dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan salah satu pembicara dalam kegiatan Web3 on Campus, Ronald Yusuf Wijaya, selaku Sharia Expansion Expert sekaligus Ketua Dewan Pengawas AFSI.

Menurutnya, Web3 dan sistem keuangan syariah memiliki keterkaitan yang kuat dan dapat saling mendukung dalam mendorong perkembangan ekonomi syariah.

Ia menilai, ekosistem ekonomi syariah yang maju membutuhkan dukungan teknologi Web3 yang mampu menghadirkan transparansi, aksesibilitas, kecepatan, serta kepercayaan dalam setiap proses transaksi.

Dengan penerapan Web3 yang tepat, Ronald optimistis perkembangan ekonomi syariah dapat berlangsung lebih cepat sekaligus menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Kampus Bisa Menjadi Titik Awal

Masuknya pembahasan Web3 ke lingkungan perguruan tinggi menjadi sinyal bahwa perkembangan teknologi ini mulai mendapat perhatian dari dunia pendidikan.

Mahasiswa, khususnya yang berasal dari jurusan teknologi informasi, memiliki modal awal berupa kemampuan pemrograman dan pemahaman teknologi.

Jika dikombinasikan dengan pengetahuan mengenai blockchain, bisnis digital, keamanan siber dan regulasi, peluang untuk masuk ke industri Web3 menjadi semakin terbuka.

Kegiatan Web3 on Campus menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan mahasiswa terhadap perkembangan industri Web3 sekaligus membuka ruang diskusi mengenai peluang dan tantangan pengembangannya di Indonesia.

Mahasiswa pun tidak hanya dituntut untuk memahami teknologi yang telah tersedia, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi bagian dari pihak yang menciptakan inovasi baru.

Web3 dan Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia

Seiring pesatnya ekonomi digital, kebutuhan akan talenta teknologi semakin besar. Pengenalan Web3 di kampus dapat menjadi penghubung antara dunia pendidikan dengan perkembangan industri.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa UIN Bandung diharapkan memahami peluang, tantangan, dan kemampuan yang dibutuhkan untuk terjun ke ekosistem Web3.

Dengan demikian, Web3 tidak sekadar menjadi tren teknologi, tetapi juga dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk menciptakan produk, membangun bisnis, dan menghadirkan solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button